Tuhan Kecil

Aku mungkin bukan lah seorang yang mengerti agama. Masih terlalu kerdil ilmu ku untuk berkata bahwa aku adalah sang pengikut Nabi dan Tuhan Yang Maha Esa. Perbuatanku masih  sangat jauh dari suri teladan yang contohkan nabi. Tentang bagaimana bersikap jujur, amanah, sabar dan lain sebagainya. Masih terlalu banyak kedengkian, dendam dan kesombongan yang ada dalam hatiku. Bahkan ibadahku pun masih sebatas ritual, tanpa pernah mengerti bagaimana rasanya beribadah secara sepiritual. Bermakna kah ibadahku? Entah lah, hanya tuhanku yang tahu.

Dan tulis ini pun mungkin adalah hasil kebodohan dan ke kerdilan ilmu yang ku miliki. Sebenarnya siapa aku, sampai-sampai bisa membuat sebuah tulisan yang bodoh ini. Tapi, mau bagaimana lagi, sekuat apapun aku bertekat untuk meredam pikiranku, semakin besar pula keinginanku ini untuk tetap mengungkapkannya.

Aku tidak mengerti dengan prilaku yang diperbuat oleh manusia saat ini. Mereka selalu saja memaksakan apa yang mereka pikirkan untuk bisa diterima oleh yang lainnya. Menganggap bahwa apa yang ada dalam otak mereka itu adalah sebuah kebenaran sedangkan yang lainnya adalah sebuah kesalahan. Tak jarang mereka pun suka seenaknya mengambil kekuasaan Tuhan, seperti memvonis bahwa si A itu sesat, si B itu kafir dan si C itu adalah musuh kita bersama. Bahkan mereka terkadang menghakimi seseorang untuk layak atau tidaknya masuk surga. Sungguh, aku benar-benar tidak pernah mengerti pemikiran mereka.

Aku, Kamu, dan mereka.. jika dibandingkan dengan semesta yang telah diciptakan oleh Tuhan, mungkin hanyalah sebuah debu tanpa arti yang ada atau tiadanya pun, semesta ini akan tetap berjalan dengan bentuk, warna dan coraknya yang beranekan ragam. Semesta ini diciptakan tidak serupa. Membosankan sekali jika tuhan menciptakan semua galaxy, bintang, planet, suku, agama, bangsa dan ras dengan bentuk yang sama. Begitulah cara kerja tuhan, dia menciptakan kita dari asal yang sama tapi menghasilkan bentuk yang tak serupa. Seperti halnya bias cahaya matahari yang bertemu dengan air, kemudian menciptakan sebuah harmoni keindahan dari warna yang diciptakannya: pelangi.

Baca Juga: Puisi Masa Kini

Kalian selalu saja mengagung-agungkan kekuasaan tuhan ketika tuhan melukiskan namanya di langit atau pada ciptaannya yang lain. Sekerdil itukah tuhan? Sampai-sampai dia harus melukis namanya untuk menandakan kebesarannya? Tidak kah kalian berfikir bahwa perbedaan yang diciptakannya itu adalah sebuah tanda kebesaranya yang kongkret.

Semesta beserta bentuk, corak dan warnanya yang beraneka ragam ini, harus tetap kita jaga dengan cara apapun. Mungkin yang terbaik adalah dengan mencintai dan mengasihi semesta ini tanpa memandang perbedaannya.. bukankah apa yang di inginkan Tuhan seperti itu?

Siapa kalian, sampai-sampai tega berusaha menjadikan semesta yang beraneka ragam ini untuk menjadi sama? Tidak kah kalian menyadari bahwa kalian telah berusaha untuk melangkahi Tuhan?

Siapa kalian, yang membela tuhan dengan menebar kebencian pada umat yang lain seolah-olah tuhan itu lemah sehingga harus dibela.

Siapa kalian, yang mengagung-agungkan nama tuhan sambil membunuh ciptaanya sendiri dengan keji seolah-olah dia tidak marah atas tindakan kalian.

Siapa kalian, yang menciptakan kegaduhan dan peperangan di atas muka bumi ini, berebut ‘tanah subur’ seolah-olah esok hari kalian tidak akan menemukan rezeki dari Tuhan Yang Maha Kaya.

Oh tuhan, betapa nistanya perbuatan mereka padamu.

Maafkan lah kami Tuhan, Tuhan-Tuhan Kecil yang bersebaran di atas muka Bumi Mu.

Tags: , ,
Merupakan seorang mahasiswa yang berusaha untuk mencintai buku

Related Article

0 Comments

Tinggalkan Balasan dan Mari Kita Berdiskusi

Kategori

  • Esai (17)
  • Resensi (2)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (2)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE

    Kategori

  • Esai (17)
  • Resensi (2)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (2)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE