Sabtu, Agustus 8, 2020
Pak, Allah Itu Seperti Apa?

Setiap sore, anak-anak di kampung cibitung berkumpul untuk bermain bersama. Anak-anak sedang asyik berencana bermain boy-boyan. Mereka  menyusun pecahan genteng-genteng bekas hingga menjadi menara, lalu sibuk membuat gumpalan hingga berbentuk bola dari plastik bekas dengan diikat oleh karet gelang. Rutinitas seperti ini terjadi setiap sore dikampung ini.

Anak-anak yang umurnya paling dewasa lah yang membagi kelompok menjadi dua. Sundari adalah gadis yang umurnya paling muda karena baru menginjak 5 tahun, maka anak-anak lain selalu menganggap Sundari anak yang lemah dan lamban dalam berlari. Karena permainan ini memerlukan kelincahan berlari, dimana dalam satu tim harus mampu bekerja sama agar tidak terkena lemparan bola dan genteng tersusun kembali, Sehingga tim akan dikatakan menang. Maka, anak-anak lain menjadikan Sundari sebagai  anak bawang (pemain cadangan), Sundari merasa dirinya remeh dan kadang enggan bermain bersama yang lain. Karena dirinya lebih sering menjadi penonton saja.

Sundari hanya duduk di teras belakang rumah yang menghadap lapangan tempat main anak-anak lain. Anak-anak selalu bermain di lapangan belakang rumah Sundari, karena luas dan sejuk.

Sundari hanya melamun menyaksikan anak-anak lain berlarian dengan lincah. Beberapa ibu-ibu berkumpul di teras sebelah rumah Sundari, rumah tetangga yang persis diseberang lapangan tempat bermain. Ibu-ibu bersantai memantau anak-anaknya bermain, termasuk Ibunya. Namun kala itu Ibu Sundari lebih merasa tenang jika Sundari tak ikut main karena terlalu berbahaya untuk anak seusianya.

Bapak Sundari yang baru pulang dari sawah sore itu, melihat anaknya yang duduk sendirian di golodog atau teras depan pintu belakang rumahnya. Bapak pun segera membersihkan diri, karena ingin segera menemani putri kecilnya yang gempal, sipit, bawel, dan lucu. Namun saat itu Sundari sedang terlihat cemberut kesal.

Selepas membersihkan diri, bapak menghampiri puteri kecilnya yang sedang duduk kala itu. “kamu sedang apa nak? Kenapa tidak ikut main?” sang bapak ikut duduk disamping Sundari.

“katanya aku tak bisa lari pak, aku lambat, aku lemah”,Sundari menjawabnya dengan muka ditekuk.

“walah walah,,, siapa yang bilang seperti itu?”

“kaka dan teman-temanku bilang seperti itu, Katanya aku masih kecil.”

Bapak mengusap kepala Sundari lembut dan berkata “Oalah,, kamu itu bukan lambat nak, hanya belum bisa lari sekencang dan sekuat kaka mu saja.”

“Itu sama aja pak,” Sundari semakin kesal.

“yah jelas beda anak-ku. Dulu kaka dan teman-temanmu juga pernah sekecil dan selambat dirimu. Kelak kau akan seperti mereka, kuat dan gesit dalam bermain”

““Memang iya pak?” Sundari menatap bapak.

“Berawal dari lemah, kecil, tak bisa berjalan dan berbicara karena masih bayi. Lalu kau akan kuat, bisa berlari dan pandai berbicara seperti kaka-kaka dan teman-teman lainnya. Dan semua akan kembali menjadi lemah dan tak berdaya lagi karena sudah tua seperti nenek. Tebak, siapa yang mau mengajak nenekmu berlari? Pasti tidak ada kan, Karena yang maha Kuasa dan Segalanya itu hanya Allah nak,”

Mendengar penjelasan dari bapaknya tersebut, Sundari hanya mengangguk tanda mengerti. Perasaannya mulai tenang. Namun, tiba-tiba muncul satu pertanyaan dalam kepalanya. “Pak, Allah itu seperti apa ya?”

Bapak cukup terkejut mendapati pertanyaan seperti itu. Tak semua orang bisa menjelaskan bagaimana Allah secara sederhana agar mudah dimengerti. Apalagi kepada seorang anak yang baru berumur 5 tahun. Bapak tahu ia tidak boleh menjawab sembarangan.

Matahari semakin jatuh di ufuk barat, anak-anak mengakhiri permainan sore itu dan segera berlarian kerumahnya masing-masing.

Bapak tersenyum lalu berkata “Nanti bapak jawab. Sekarang kita masuk dulu, sebentar lagi adzan.”

“Baik pak.” Sundari berdiri lalu menggandeng tangan sang ayah dan masuk kedalam rumah.

Selepas maghrib setiap rumah akan terdengar suara anak-anak yang belajar membaca Al-Quran, Al-Berjanjian, tafsiran, dan rarakatan sholat. Budaya seperti ini masih berlangsung di kampung ini. Kakak pertama Sundari yang baru lulus pondok pesantren salaf pun mengisi kekosongan dengan mengajari adik-adiknya mengaji.

Setelah selesai mengaji Sundari menghampiri bapak. Bapak kala itu sedang di ruang kosong rumahnya. Ruangan yang sengaja dibuat tempat bapak duduk sendirian di malam hari. Ruangan itu hanya mendapatkan pencahayaan sedikit dari dapur sehingga remang-remang dan sunyi. Bapak duduk melamun sambil meminum kopi dan menikmati rokok.

“Pak, lagi apa?” pertanyaan yang dilontarkan sembari tertawa centil memperlihatkan matanya hanya lengkungan garis hitam.

“Sini nak” Bapak mengangkat Sundari untuk duduk dipangkuannya.

Sundari senang menemani Bapak diruangan itu. Bapak sering memberi teka-teki, atau bercerita kepada Sundari. Memiliki puteri yang paling kecil dan paling dekat dengannya, Bapak merasa memiliki sosok sahabat dalam wujud berbeda.

Tiba-tiba Sundari teringat akan pertanyaannya yang belum terjawab oleh bapak. “Pak, bapak belum menjawab pertanyaanku tadi sore.”

“Pertanyaan yang mana ya?” Bapak pura-pura tidak mengingat pertanyaan Sundari dan memasang wajah kebingungan.

“Itu lho pak, tentang Allah itu seperti apa?” Jawab Sundari gemas.

“Ah benar, hehehe. Kenapa toh sama Allah?”

“Aku masih bingung pak, tadi di sekolah Bi Eden bilang, katanya Allah itu memiliki sifat ‘Wujud’ tapi aku nggak bisa melihat Allah”.

Bi Enden adalah guru ngaji diwaktu sore hari, sekaligus guru TK Sundari.

Bapak tersenyum, lalu menjawab “Allah itu memang ‘Wujud’, tapi bukan berarti kamu harus lihat dengan mata dagingmu nak.”

“Aku nggak ngerti pak. Lalu ‘Wujud’ Allah itu seperti apa?”

“Allah itu selalu ada disetiap sudut manapun, bahkan dalam diri manusia Allah itu ada.”

“Tapi pak, kalau Allah ada disetiap diri manusia berarti Allah itu banyak ya, tidak satu?” Sundari menadahkan wajahnya melihat bapak.

“Hehehe tidak seperti itu anakku. Allah itu maha tunggal. Tapi Allah ada di mana-mana. Contoh kecilnya seperti ini, ibu kamu ada berapa?”

“Satu pak.”

“Kakak-kakak kamu ada berapa?”

“Tujuh pak.”

“Ditambah Bapak satu, jadi berapa?”

“Delapan, pak”

“Nah pinter. Sekarang kakak-kakakmu, bapak, bahkan nenek dan kakek, juga bibi dan pamanmu sayang pada ibu. Apakah ibu jadi banyak?”

“Ya tidak begitu pak, tetap satu”

“Nah, Allah juga seperti itu, kenapa Bapak bilang ada di dalam diri masing-masing setiap makhluk-Nya. Karena Ibumu juga ada disetiap diri kita, kamu, Bapak, Kaka-kakamu, Kakek mu, Nenek mu, Paman dan Bibi mu. Ibumu membantumu menyiapkan pakaian sekolah, menyiapkan sarapan, membantu Bapak, Kaka, dan keluarga yang lain, bukan? Tapi, Ibu tetap satu”

“Tapi kan pak, ibu terlihat sedangkan Allah tidak terlihat”

Bapak semakin menyadari karakter Sundari memang berbeda dengan Kaka-kakanya yang cuek dan tidak banyak ingin tahu, Bapak hanya menjawab dengan tawa dan pelukan erat “hehehe… anak Bapak ini,,”.

Namun sundari masih penasaran, seperti apa Allah itu. Teringat dengan kegiatan sholat dan mati, yang konon dalam benaknya manusia akan bertemu dengan Allah. Sundari mengetahui hal itu dari orang-orang sekitar sepeti Kaka-kakanya, Ibu, Nenek, Kakek, Juga guru ngajinya yang selalu berkata “dalam sholat kita menghadap Allah, dan akan bertemu Allah di akhirat kelak”.

Akhirnya Sundari kembali bertanya, “Allah bisa kita temui ketika kita sholat pak? Tapi aku nggak ketemu sama Allah pas sholat, atau Allah bisa kita temui ketika kita meninggal?”

Bapak kembali tersenyum, berusaha bersabar dan sehati-hati mungkin menjawab pertanyaan anak bungsunya ini  “Bukan begitu nak. Allah itu ada saat kita hidup maupun mati, sholat ataupun tidak sholat”

Sundari menatap bapak dengan tatapan kebingungan. Bapak kembali mencoba menjelaskan “Nak, Allah itu maha segalanya, tapi akan menjadi maha tiada bagi yang tidak sadar dan tidak sabar”.

“Tidak sadar dan tidak sabar?” Tanya Sundari semakin bingung.

Bapak sejenak menarik nafas. Mencoba merangkai apa yang pernah dia pelajari dan dia alami dalam hidupnya menjadi sebuah rangkaian kata-kata.

“Jadi begini anak-ku, Allah itu tidak bisa kamu lihat hanya dengan mata yang menempel di wajahmu, tidak bisa kamu rasakan dengan kulit tangan mu, tapi bukan berarti Allah itu tidak ada. Allah itu ada, ketika pikiran dan hati mu sejalan, searah, saling bertemu, tidak saling menjauh dan berbalik arah. Sadar dan sabar. Tidak hanya teori yang kamu pelajari. Tapi harus kamu terapkan dan rasakan dengan kalbu mu, dengan hati dan pikiran yang saling temu. Kamu akan tau apa itu sabar dan sadar.”

“Aku tidak paham maksudnya sadar dan sabar yang Bapak jelaskan, aku kan gak gila Pak?”

“Anak bapak ini…” Bapak mengacak-acak puncak kepada Sundari gemas “…Kamu pandai sekali. Nanti kamu akan menemukan makna sadar juga sabar. Selanjutnya puteri bapak yang cerdas ini harus sabar untuk menemukan Allah itu seperti apa. Kamu jangan lupa, di mana pun kaki melangkah, mata memandang, hati mengarah, pikiran berkelana, kamu harus sadar. Kamu harus selalu mengendalikan dirimu sendiri, bukan memaksa mengendalikan diluar kendali dirimu sendiri nak.”

Sundari terdiam, ia berusaha mencerna apa yang bapaknya jelaskan.

“Ngomong-ngomong kopi bapak sudah habis, bapak ke dapur dulu ya. Kamu mau kopi?”

“Tidak pak.” Sundari memindahkan tubuhnya dari pangkuan bapak dengan wajah masih kebingungan.

Bapak paham betul kebingungan anaknya itu. Di usia yang masih sangat belia, sangat wajar anaknya hanya mampu memahami semua hal dengan gambaran nyata. Namun dalam hati bapak percaya, putri mungilnya kelak akan menemukan dan paham apa jawaban darinya.

Bapak kembali dari dapur dengan kopi ditangannya. Sembari mengaduk kopi panasnya tiba-tiba bapak teringat filosofi hidup tentang seduhan kopi.

Sambil berjalan bapak berkata “Hidupmu nanti seperti menyeduh kopi ini nak, kamu harus sabar menunggu air agar panas, memasukan gula dan kopi kedalam gelas, menakar berapa banyak kopi dan berapa banyak gula yang masuk. Karena kalau kamu menaruh gula terlalu banyak atau kopi terlalu banyak, kamu akan merasakan kopi dengan rasa yang tidak pas, bisa terlalu pait atau terlalu manis, atau kalau terlalu banyak air akan hambar. Sama seperti hidupmu, harus penuh penakaran, perkiraan, pengendalian atas dirimu sendiri agar nafsumu tidak mendominasi hidupmu. Maka kelak kau akan menemukan Allah itu seperti apa”

Sundari masih bisu. Bapak kembali duduk dan memeluk sundari ditempat duduknya, dan menaruh kopi di depan sundari.

“Bapak punya cerita nak,”

“cerita apa Pak?”

“kala itu ada ikan yang sedang berenang, lalu menemui seekor kancil yang sedang minum. Lalu ikan itu bertanya pada kancil, ‘wahai kancil apakah kau tau air itu seperti apa dan dimana?’. Lalu kancil pun menjawab ‘wahai ikan, bukankah selama ini kau di dalam air?’. Sang ikan bingung kala itu, karena tidak menyadari keberadaan air.”

“Maksudnya apa pak?” Tanya Sundari.

“Maksudnya nak, kita sering bertanya di mana Allah, Allah itu seperti apa, padahal selama ini Allah selalu berada di dekat kita. Allah selalu mengawasi bahkan tahu apa yang kita pikirkan dan rasakan. Kita yang sering tidak sadar bahwa Allah itu ada.”

Sundari semakin menunjukkan wajah kebingungan. Bapak yang melihatnya tersenyum lalu kembali diusapnya lagi kepala putri bungsunya itu “Tidak apa-apa nak kalau kamu belum mengerti sekarang. Pelan-pelan, sambil terus menambah ilmu kamu akan paham”.

Sundari mengangguk dan tersenyum “Iya pak, aku akan terus belajar” Lalu tak lama ia menguap, menandakan jam tidurnya telah tiba dan diskusi malam ini harus segera diakhiri.

“Wah anak bapak sudah mengantuk ya. Yuk tidur.”

Bapak kemudian menggendong Sundari ke kamarnya dan ditunggunya sampai Sundari tertidur.

Dalam benak  Bapak, ada sedikit kekhawatiran dengan puteri kecilnya. Bapak khawatir puterinya bertanya pada orang yang salah. Walaupun saat ini Sundari masih belum memaknai apa yang dijelaskan olehnya, bapak berharap semua jawaban yang ia berikan terekam oleh otak cerdas Sundari dan perlahan dipahaminya, lalu menjadikannya sebuah patokan dalam hidup Sundari.

Tags:

Related Article

No Related Article

2 Comments

Bintang 4 April 2020 at 21:32

Apakah sekarang sundari sudah besar?

    Redaktur 17 April 2020 at 01:07

    Sudah cukup matang untuk bisa berkembang biak

Tinggalkan Balasan dan Mari Kita Berdiskusi

Kategori

  • Esai (24)
  • Resensi (4)
  • Sastra (7)
  • Tokoh (1)
  • Unique (4)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE

    Kategori

  • Esai (24)
  • Resensi (4)
  • Sastra (7)
  • Tokoh (1)
  • Unique (4)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE