Selasa, Desember 1, 2020
Ilmu Dari Leluhur Sesat Dalam Islam?

Judul : Serat Centhini 1
Penulis : Agus Wahyudi
Penerbit : Cakrawala
Cetakan : Cetakan kedua, 2015
Tebal : 479 halaman
ISBN : 978-979-383-281-4

Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tembangraras merupakan naskah sastra Jawa paling tebal yang terdiri dari 4.200 halaman folio. Serat Centhini ini merupakan kitab ensiklopedia kebudayaan Jawa terlengkap. Karya sastra ini mulai ditulis pada bulan januari 1814 dan selesai pada tahun 1823. Sembilan tahun waktu pengerjaannya.

Dalam karya sastra setebal 12 jilid ini hampir semua khazanah keilmuan yang ada di masyarakat Jawa dijelaskan. Mulai dari tasawuf, sejarah, pendidikan, filsafat, agama, kesaktian, psikologi, etika, adat istiadat, seni dan banyak hal lainnya yang ada di Tanah Jawa. Buku ini mampu menyajikan corak budaya jawa yang berhubungan erat dengan agama islam secara terperinci.

Ide penulisan Serat Centhini ini dimulai oleh Putera Makhkota Surakarta —Adipati Anom Amangkunegara III. Untuk bisa menyelesaikan idenya tersebut Adipati Anom dibantu oleh tiga orang pujangga keraton yang bernama Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura dan Raden Ngabehi Sastradipura yang masing-masing diantara mereka diberikan tugas yang berbeda.

Serat Centhini mungkin bisa dikatakan pernah sekarat. Karena, karya sastra ini pernah hampir hilang dalam khazanah kesusastraan Indonesia. Namun, akhirnya naskah ini berhasil dihidupkan kembali oleh Darusuprapto yang dilanjutkan oleh Tim Akademisi UGM yang diketuai Marsono.

Serat Centhini yang akan saya review ini bukanlah naskah asli yang diterjemahkan oleh Tim Akademisi UGM tadi. Tapi, Serat Centhini yang dituturkan oleh Agus Wahyudi.

***

Serat Centhini Jilid 1 membahas kisah perjalanan putera-puteri Sunan Giri Prapen —Salah satu Wali Songo— yang berkelana dan mendapatkan banyak ilmu di Tanah Jawa. Anak-anak Sunan Giri Prapen ini yakni Jayengresmi —yang menjadi tokoh utamanya— kemudian kedua adiknya Jayengsari dan Rancakapti yang masih berumur sekitar 5-6 tahun. Jayengresmi terpisah dengan kedua adiknya ketika melarikan diri pasca kalahnya kerajaan Giri (Gresik) yang diserang oleh Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Saat itu Sultan Agung berambisi untuk menyatukan seluruh Pulau Jawa kedalam panji Kerajaan Mataram.

Setelah runtuhnya Kerajaan Giri, Jayengresmi berkelana ke berbagai penjuru Pulau Jawa. Mulai dari Kediri hingga ke Banten. Jayengresmi berkelana dan melewati hutan-hiutan hingga gunung-gunung yang ada di Pulau Jawa. Perjalanannya begitu luar biasa.

Dalam perjalannya Jayengresmi banyak sekali menjumpai para kiayi, petapa, resi, para sesepuh desa, bahkan pernah bertemu dengan penguasa jin di Hutan Kediri yang kemudian takluk padanya. Tidak hanya bertemu, Jayengresmi juga berguru dan mendapatkan banyak ilmu dari mereka. Jayengresmi tidak memandang perbedaan kepercaan membuatnya berbuat sembrono dan tidak mau berguru pada mereka.

Jayengresmi mengajarkan pada kita untuk bisa berbudi luhur dan tidak sombong, Ketika mempunyai kepandaian digunakan bukan untuk bertikai, nerimo (menerima -red) tapi bukan berarti tidak berdaya. Pitutur yang baik untuk dicontoh.

Diakhir perjalanannya, Jayengresmi mengislamkan seorang resi yang bertapa di Gunung Cermai. Sang Mahawiku. Dia merupakan resi yang tajam penglihatanya, ia bisa mengetahui masa depan. Sang Mahawiku tersebut bisa melihat bahwa Jayengresmi kelak akan menemui kedua adiknya—Jayengsari dan Rancakapti. Resi tersebut memberikan petuntuk agar Jayengresmi pergi ke Gunung Karang. Disana ada seorang syekh yang bernama Ibrahim Ibnu Bakrim atau dikenal sebagai Ki Ageng Karang dan dirinya akan diangkat menjadi anak oleh syekh tersebut.

***

Perjalanan Jayengsari dalam Serat Centhini Jilid Satu ini sangat luar biasa. Terlebih, periview menyoroti bagian dimana Jayengresmi mendapat ilmu petung dan nujum. Yakni ilmu mengenai perhitungan hari, tanggal, dan bulan. contohnya adalah tentang larangan bulan menikah di bulan muharam, sapar, rabiulawal, dan rabiul akhir yang merupakan bulan na’as dalam pernikahan. Kemudian jika ingin menikah sebaiknya dilaksanakan pada bulan rajab atau sya’ban karena dua bulan tersebut merupakan bulan baik untuk menikah.

Selanjutnya, periview juga menyosoroti bagian ketika Jayengresmi mendapatkan ilmu Nujum (ramalan bintang). Yaitu ilmu tentang perhitungan Hari Jawa yang bisa digunakan untuk membaca tanda-tanda alam. Dalam tutur seorang guru didalam buku, ilmu tersebut merupakan ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Rasulullah pernah bersabda:

“Wahai semua umatku, ketahuilah tentang tata cara berpergian. Pilihlah yang sesuai. Jangan berpergian pada tanggal 1 karena tidak ada untungnya. Bepergianlah pada tanggal 2 karena itu akan mendapatkan banyak untung. Tanggal 3 itu tidak baik karena tidak mendatangkan untung. Kalau bepergian tanggal 4 mendapakan kesulitan di jalan […]”

Itu merupakan sedikit kutipan dari buku Serat Centhini jilid 1 mengenai pehitungan hari.

Dalam setiap penjelasan hari baik dan buruk, perbintangan bernasib baik dan buruk, kita boleh mempercayainya maupun tidak. Karena, ketika mempercayainya berarti kita sedang mencoba untuk menjalankan syariat penangkal dari hari dan nasib buruk tersebut. Jika tidak mempercayai dan menyepelekannya maka tanggung sendiri akibatnya jika dikemudian hari sesuatu hal yang buruk terjadi. Tentu saja ketika percaya perhitungan ini pun yang paling utama adalah kita harus tetap percaya (Beriman -Red) serta berserah diri kepada Sang Hyang Widhi (Allah SWT). Karena ilmu ini hanyalah alat.

Ilmu petung dan nujum merupakan bagian dari ilmu kebatinan yang dimana untuk mendapatkannya kita harus memiliki hati yang bersih, tidak ada rasa iri dan dengki, tidak ada kebencian, serta memiliki sifat penyayang, rendah hati dan juga pengasih.

***

Ada alasan kuat kenapa saya, sebagai reviewer menyoroti bagian di atas. Jika pembaca berkenan, saya akan bercerita mengenai keterkaitan ilmu petung dan nujum dalam buku ini terhadap kehidupan saya.

Dalam ajaran Islam yang diberikan oleh kedua orang tua Saya, tidak ada satupun ajaran dari mereka yang berbau keras. Misalnya, seperti mengkafirkan, megatakan sesat atau mengatakan bidah dhalalah (jelek) terhadap suatu hal. Kedua orang tua saya selalu menghargai perbedaan paham yang ada.

Ajaran orang tua saya untuk menyikapi perbedaan pendapat begitu sederhana. Jika terdapat perbedaan pendapat dan bertentangan dengan apa yang kita yakini maka kita tidak usah mengikutinya, namun jika dirasa cocok dengan keyakinan kita maka kita bisa menjalankannya. Karena, menurut kedua orang tua saya, pemahaman sebuah ilmu tidak bisa diperdebatkan atau jadi pertengkaran. Islam mengajarkan toleransi yaitu, menghargai dan menghormati perbedaan pendapat.

Naasnya, banyak nilai-nilai yang saya pegang—hasil dari pengajaran kedua orang tua saya—saat ini, jarang diketahui kebenaranya oleh orang-orang pada umumnya.

Saya ini lahir disebuah desa di Jawa Barat yang jauh dari pusat perkotaan. Orang tua Saya memberikan ajaran-ajaran Islam tentang cara sembahyang dan mengaji seperti pada umumnya. Tetapi bukah hanya itu, kedua orang tua Saya juga mengajarkan ilmu petung dan nujum atau biasa dikenal sebagai ilmu perhitungan hari baik dan na’as, weton, perbintangan, dan perhitungan lainnya. Percis seperti yang didapatkan Jayengsari dalam Serat Centhini ini.

Perhitungan hari dan tanggal tersebut sering Saya gunakan. Contohnya, ketika saya hendak berpergian maka saya harus menentukan tanggal dan hari baiknya terlebih dahulu sebelum berangkat. Keyakinan ini sangat dipegang teguh oleh keluarga Saya.

Banyak orang-orang islam yang mengatakan bahwa hitung-hitungan seperti ini adalah klenik, mitos dan takhayul. Pada awalnya, Saya pun menganggap demikian. Hingga suatu hari, Saya pernah melanggar larangan tersebut dan berpergian pada tanggal na’as. Dan hasilnya saya memang tidak ditemukan kelancaran. Selalu ada saja kesialan yang menimpa saya.

Karena peristiwa tersebut, akhirnya Saya—mau tida mau— harus bisa menerima apa yang diajarkan oleh orang tua saya tersebut. Selain itu, Saya juga berfikir bahwa hitung-hitungan ini tidak mungkin tiba-tiba ada tanpa ilmu dari seorang guru yang mengajarkannya. Tanpa ada orang yang meneliti ini sebelumnya dengan keilmuannya. Kemudian, saya juga tidak mungkin mengatakan kedua orang tua saya sesat atas ilmu yang belum saya mengerti sumbernya darimana. Siapa tau ini memang diajarkan dalam Islam. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya.

Saya pernah bertanya mengenai hitungan hari—baik dan na’as—ini kepada Ibu Saya. Apakah ini merupakan ajaran Rasulullah atau bukan? Ibu saya Ketika itu menjawab bahwa hitungan ini memang ada dan diajarkan oleh Kanjeng Rasul meskipun pada saat itu Ibu Saya tidak menyertakan hadist atau dalil yang kuat. Karena mungkin ajaran seperti ini diturunkan hanya melalui dongeng. Jadi para sesepuh dulu mungkin tidak bisa menjelaskan secara rinci hadist atau dalil yang kuat untuk melandasinya. Hanya berlandaskan ‘katanya’.

Pada dasarnya tidak ada pemaksaan mau mempercayai atau tidak. Namun, hal paling penting disini bagaimana leluhur kita mengajarkan sikap berbudi luhur dan rendah hati. Seperti apa yang telah dikatakan Ki Ageng Karang (Syekh Gunung Karang- Banten) kepada Jayangresmi,

“Jika ingin berlayar di lautan rahmat maka gunakanlah perahu yang ada kemudinya. Kompas (petunjuk arah) jangan sampai ketinggalan. Pilihlah layar yang baik dan bawalah bekal yang cukup. Jika tidak demikian maka tidak akan sampai ketepian lautan rahmat karena akan mejumpai banyak kesulitan selama berlayar.”

Yang dimaksud perahu itu adalah pikiran. Perahu yang baik adalah pikiran yang jernih. Kemudinya adalah tekad. Kemudi yang baik adalah tekad yang mantap. Layarnya adalah hati. Layar yang baik adalah kejernihan hati. Kompasnya adalah guru sejati. Bekalnya adalah ilmu rasa. Adapun kelancaran perahu nantinya tak lepas dari kemurahan dari Gusti Yang Maha Kuasa yang membuat kita selamat sentosa selama dalam samudra rahmat.

Perlu juga kamu ketahui bahwa di dalam samudra itu ada 4 hal yakni: lautan Dzat, lautan Sifat, lautan Af’al dan lautan Asma. Jika seseorang belum mengerti tentang keempat samudra ini, orang tersebut belum sempurna karena masih ada kotoran di hatinya. Dan untuk mengetahui masalah ini hendaknya bertanya kepada orang yang sudah tahu ilmunya. Jangan banyak mengumbar kata. Tapi perbanyaklah ikhtiar. Pikirkan masak-masak sebelum bertindak karena pekerjaan tanpa dipikir itu akan berbuah jelek. Tapi juga jangan takut bertindak karena terlalu terbawa perasaan. Hendaklah berbudi pekerti karena itu pegangan orang orang-orang zaman dahulu.jangan bersandar pada orang lain tapi bersandarlah pada diri sendiri. Itulah cara penerapan ngelmu petung.

***

Setelah apa yang saya alami dan apa yang telah dijelaskan oleh buku ini akhirnya Saya menjadi tambah yakin bahwa ternyata, apa yang diajaran oleh keluarga Saya benar dan jelas asal-usulnya. Karena, apa yang digambarkan dalam kitab ini merupakan gambaran paling nyata tentang corak keislaman yang pernah ada di Tanah Jawa. Keislaman berbau sufistik yang mempunyai berperadaban tinggi dan sangat menghargai ilmu—Entah dari siapapun asalnya.

Tags: ,

Related Article

0 Comments

Tinggalkan Balasan dan Mari Kita Berdiskusi

Kategori

  • Esai (24)
  • Resensi (4)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (4)
  • Ikuti Kami!