Binatangisme

Apa yang ada dibenak pembaca sekalian ketika melihat judul buku ini? Lucu, geli, aneh, terkejut atau (isi sendiri).

Saya sendiri pas pertamakali melihat buku ini -dalam sebuah toko buku daring- begitu terkejut sekaligus merasa aneh dan bingung. Binatangisme, Mungkinkah ini adalah sebuah paham baru yang lebih berbahaya dari kuminisme? Karena, jika kuminisme bercita-cita untuk membuat semua manusia memiliki kumis yang sama maka dalam ajaran binatangisme ini (bisa jadi) berfaham bahwa semua binatang itu sama dengan manusia. Wah, bahaya jika seperti itu. Karena, jika paham itu menyebar dan diaminkan oleh dunia kemungkinan saya sendiri -secara pribadi- tidak lagi bisa menikmati kulit ayam mekdi yang terkenal enak itu. Bahaya laten yang sangat serius ini.

Berbekal sebuah kenekatan untuk mencegah faham ini berkembang -agar saya tetap bisa menikmati kulit ayam mekdi- maka akhirnya saya pun memutuskan untuk membeli buku ini. Kenapa saya malah membeli buku ini dan bukan berusaha untuk membakarnya seperti beberapa tokoh dalam sejarah yang membakar buku untuk mencegah sebuah ajaran?

Selain karena saya tidak mampu untuk melakukan hal yang demikian saya juga sepakat dengan perkataan Tsun Tzu bahwa “Untuk mengetahui siapa musuhmu, kamu harus menjadi seperti mereka”. Jadi, agar saya dapat menangkal faham mereka maka saya sendiri harus tau apa dan seperti apa faham ini.

Buku yang saya pesan datang beberapa hari kemudian dan langsung saja saya melahapnya bagian demi bagian. Bukunya tidak terlalu tebal dan tidak susah juga untuk dikunyah. Singkatnya, sangat ringan dan tipis. Berbeda dengan buku-buku faham lain yang tebalnya bikin melehleh dan sangat liat atau bahkan keras untuk di kunyah.

Singkat Kata, setelah saya membaca buku ini sampai habis sedikitpun saya tidak menemukan bahwa buku ini memuat sebuah ajaran atau doktrin-doktrin seperti yang saya duga sebelumnya.

Buku ini justru hanya memuat sebuah cerita ‘jenaka’ tentang para binatang ternak disebuah peternakan yang ada di Inggris. Bukan sebuah cerita binatang biasa, melainkan sebuah cerita satire yang menggambarkan secara gamblang tentang bagaimana manusia-manusia bisa tega melakukan cara apapun demi mendapatkan dan melanggengkan kekuasaannya. Kekuasaan yang totaliter dan absolut.

Ketika membaca buku ini, Saya sendiri hanyut dalam cerita yang digambarkan dalam setiap kata demi katanya. Begitu mendetail dan mengalir seperti air.

Oke, sebelum kita membahas isi dari buku ini. Pertama, saya ingin memberi tahu bahwa buku yang saya baca ini adalah sebuah buku yang diterjemahkan langsung oleh salah satu mantan aktivis HMI yang keluar dan menjadi Ketua Umum Pertama PB PMII. Mahbub Djunaidi.

Dalam pergerakannya, Mahbub Djunaidi sangat terkenal karena tulisan-tulisannya yang berbeda dari penulis-penulis lain. Begitu satire dan menggelitik tapi terbungkus dengan gaya tulisan yang sangat jenaka. Bisa dibilang dia adalah penulis yang melampaui zamannya.

Kedua, buku asli Binatangisme ini berjudul Animal Farm (Peternakan) yang ditulis oleh penulis satire Inggris terkenal yang bernama George Owrell. George Owrell sendiri melejit namanya ketika dia menerbitkan buku yang berjudul “1984”. Dan “Animal Farm” ini adalah karya terbaiknya.

Ketiga, Animal Farm diterjemahkan oleh Mahbub Djunaidi pada tahun 1983 ketika situasi Orba sedang carut marut dan pengap. Judul yang dia gunakan pun begitu berani. Bukan “cerita peternakan”, “binatang peternakan” atau apapun judul lainnya yang membuat orang merasa kurang tertarik. Melainkan “Binatangisme”. Sebuah judul buku yang membuat orang mempertanganyakan kembali tentang buku tersebut -termasuk saya sendiri-.

Pada awal bab buku ini kalian akan langsung dikenalkan pada beberapa tokoh binatang yang menurut saya sendiri seperti representase dari setiap individu-individu manusia yang ada di dunia. Binatang-binatang dari berbagaimacam jenis ini digiring untuk masuk pada sebuah kandang utama untuk mendengarkan pidato Babi Manor -Seorang babi yang visioner. Babi Manor tersebut berpidato tentang visinya tentang kehidupan binatang-binatang ternak. Sebuah kehidupan yang jauh dari penindasan dan pemerasan yang dilakukan oleh si pemilik ternak (manusia). Dalam pidatonya Babi Manor memaparkan semua penindasan-penindasan yang dilakukan oleh manusia kepada semua binatang yang ada di peternakan tersebut. Mulai dari eksploitasi tenaga hingga eksploitasi apa yang dihasilkan oleh binatang-binatang ternak tersebut. Babi yang visioner tersebut mengatakan bahwa kita (para binatang ternak) diberi makan hanya agar bisa menghirup napas saja. Namun, ketika kita sudah tidak bisa di eksploitasi maka tinggal kematian yang akan menanti -dijagal untuk dimanfaatkan dagingnya-.

Sayangnya sebelum cita-citanya tercapai, babi visioner tersebut mati karena umur yang sudah tua. Cita-cita yang di impikan oleh si babi visioner tersebut akhirnya diteruskan oleh dua kader mudanya. Yakni, Babi Snowball dan Babi Napoleon.

Berkat kerjasama yang cantik dari dua kader muda tersebut pecahlah sebuah revolusi yang akhirnya memenangkan para binatang dari penindasan manusia yang ‘jahat’ tersebut.

Buah hasil revolusi yang mereka ciptakan pada akhirnya menciptakan sebuah konsensus bersama tentang apa dan bagaimana pedoman hidup mereka. Bisa dikatakan mereka menciptakan sebuahPhilosophische Grondslag” percis seperti Pancasila milik kita. Bedanya mereka memiliki tujuh pedoman utama sedangkan kita hanya lima.

Pada awal kemerdekaan tercipta, semua binatang tampak senang dan bergembira ria dan mereka percaya, bahwa, sesuatu yang indah di depan sana memang akan tercipta dengan segera. Sebuah tatanan masyarakat binatang tanpa kelas.

Sayangnya impian mereka pada akhirnya hanya sebuah utopia belaka. Awal dari impian mereka menjadi sebuah utopia yaitu ketika terjadinya silang pendapat antara Babi Snowball dan Babi Napoleon. Puncak persilangan pendapat terjadi pada saat rencana pembangunan kincir. Tanpa diketahui oleh siapapun ternyata selama ini Babi Napoleon memelihara sembilan anjing pemburu yang kemudian digunakannya untuk (bisa dikatakan) mengkudeka Babi Snowball yang selama ini menjadi pemimpin mereka – Pemimpin yang berani, merakyat dan memiliki gagasan yang tidak ada tandingannya. Babi Snowball diburu oleh para anjing pemburu dan tidak pernah kembali lagi. Entah kemana dia pergi.

Tegas saja pada saat itu juga Babi Napoleon mendeklarasikan kepemimpinannya tanpa ada satupun binatang yang protes karena begitu seramnya para anjing pemburu yang berada dibelakangnya. Perlu diketahui bahwa mayoritas dari para binatang ternak ini sangat dungu. Bahkan, kedunguan mereka meresap hingga ke tulang-tulangnya.

Jadi, mudah saja bagi Babi Napoleon untuk membalikan fakta tentang Babi Snowball yang selama ini diterima oleh para binatang. Kejadian yang sudah benar-benar sangat melanggar dan begitu kotor di depan mata para binatangpun dengan sangat cepat menjadi sebuah fakta bawa tindakan tersebut benar dan suci.

Hoax/Berita bohong begitu masif diberitakan oleh Babi Napoleon beserta kroninya kepada seluruh masyarakat binatang ternak. Karena kedunguan dari para binatang ternak tersebut akhirnya mereka memakan semua berita yang ada tanpa dikunyah terlebih dahulu. Menciptakan sebuah fakta baru bahwa Babi Snowball ada penjahat dan pahlawan sesungguhnya adalah Babi Napoleon.

Kepemimpinan Babi Napoleon pada akhirnya teraminkan oleh semua binatang. Babi Napoleon memimpin dengan sangat diktator yang super otoriter. Tujuh Pedoman Utama yang telah disepakati bersama pun satu persatu dilanggar oleh Babi Napoleon (tentu saja dengan para kroninya). Beruntung Babi Napoleon memiliki juru ngeles yang mahir, yakni, Babi Squealer.ketika ada desas-desus tentang Babi Napoleon mulai menyeruak Babi Squealer datang untuk menepis semua desas desus tersebut. Tentu saja Babi Squealer datang dengan kawalan para anjing pemburu. Membuat siapapun akan berfikir seribu kali sebelum menyangkal pekataan dari Babi Squealer.

Tapi, anehnya mayoritas binatang tidak merasa bahwa mereka sedang ditindas. Penindasan yang bahkan lebih keji daripada penindasan yang dilakukan oleh manusia. Para binatang itu memang sangat dungu sehingga mereka tidak sadar bahwa kebijakan yang dilakukan oleh Babi Napoleon sudah sangat jauh dari cita-cita revolusi.

Bahkan prinsip mereka tentang “Empat Kaki Bagus, Dua Kaki Buruk” inti dari Tujuh Pedoman Utama berubah menjadi “Empat Kaki Bagus, Dua Kaki Lebih Bagus Lagi” begitusaja ketika Para Binatang kedapatan melihat Babi Napoleon dengan gagah dan tegapnya berjalan dengan dua kaki.

Pelanggaran demi pelanggaran dilakukan oleh Babi Napoleon. Bahkan kerjasama dengan manusia yang dulu menjadi sesuatu hal yang haram dilakukan olehnya.

Cerita di tutup dengan jamuan yang cukup mewah antara Babi Napoleon dengan Manusia. Dalam satu waktu tersebut Babi Napoleon hampir melanggar semua Pedoman Binatang.

Dengan pertanyaan mengambang cerita diakhiri dengan paragraf;

“Para binatang yang berada di luar dan mengintai dari jendela tercenung. Mereka meneliti seksama wajah-wajah yang berada di dalam gedung. Dari wajah manusia, kemudian ke wajah babi, kemudian ke wajah manusia lagi, lalu beralih lagi ke babi. Kini rasanya sudah mustahil membedakan mana yang manusia dan mana yang babi! Babi dan manusia sama saja”

Tags: , , ,
Merupakan seorang mahasiswa yang berusaha untuk mencintai buku

Related Article

0 Comments

Tinggalkan Balasan dan Mari Kita Berdiskusi

Kategori

  • Esai (17)
  • Resensi (3)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (2)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE

    Kategori

  • Esai (17)
  • Resensi (3)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (2)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE