Berislam Dengan Waras

Judul : Islam Sontoloyo
Penulis : Ir. Sukarno
Penerbit: Basabasi, Cetakan Pertama 2017
Tebal : 284 halaman
ISBN : 978-602-6651-48-8

Dalam beberapa tahun terakhir ini ーentah mengapaー Saya begitu intens mempelajari tentang Islam. Ada beberapa hal yang memang menurut saya ganjil dalam agama yang saya anut ini. Perihal ketuhanan, penyebaran agamanya hingga doktrin-doktrin yang ada dan berkembang dalam islam itu sendiri.

Saya sendiri bukan lah orang yang terlalu faham tentang Islam dan saya pun memang bukanlah orang yang terlalu “islami”. Banyak sekali aturan-aturan dalam Islam yang tidak saya tahu dan banyak pula aturan-aturan yang tidak sengaja saya lupakan ーtolong garis bawahi kalimat “tidak sengaja”-nya yah.

Walaupun demikian tidak lah mengapa toh mempelajari agama ini ーbagi saya sendiriー bukan hanya stuck pada ajaran tentang bagaimana cara mandi, wudhu atau sholat, sajakan? Ada hal lain yang musti kita selami. Maksud saya, mempelajari hal demikian ーhukum-hukum dalam islam tersebutー memang diharusan akan tetapi tidak menjadi satu-satunya yang menjadi pedoman dalam beragama.

Dalam perjalanan mempelajari Islam ini, Saya mengikuti beberapa kajian-kajian (pengajian) tentang keislaman, majelis-majelis dzikir dan berdiskusi dengan beberapa sahabat yang menurut saya tahu tentang Islam. Meski sudah sering melakukan hal yang demikian akan tetapi masih banyak pertanyaan-pertanyaan saya terhadap Islam yang belum terjawab atau jawabannya tidak memuaskan saya.

Mari kita ambil beberapa contoh. Misalnya:

“Mengapa Islam bisa langsung terpecah dan menimbulkan perang antar sesama umat muslim pasca meninggalnya Rasulullah SAW? Apa yang salah? Ajaran Islamnya kah atau memang Nabi Muhammad telah gagal mengajarkan Islam kepada para sahabatnya?”

“Siapa itu muslim? Kenapa banyak dari kita yang mengatakan Mu’tazilah, Syiah, Ahmadiyah, Sufiyah atau Wahabi adalah ajaran sesat bahkan tidak jarang ada juga yang mengkafirkannya?”

atau

“Sholat dalam Al-Quran katanya mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al ‘Ankabut: 45) akantetapi mengapa di negeri-negeri muslim saat ini masih terus terjadi perang? Apakah Tuhan sudah keliru dalam ayat tersebut?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya yang demikian.

Jika pembaca sekalian bukanlah orang yang terlalu “beriman” dan memiliki pertanyaan yang serupa mungkin buku Islam Sontoloyo ini menjadi sebuah refensi buku keislaman yang penuh dengan gizi dan menyehatkan pikiran. Pemikiran Sukarno tentang islam memang tidak terlalu banyak dipelajari oleh kita semua. Yang umum kita tahu dari Bapak Proklamator ini mungkin hanyalah sebatas dia adalah seorang orator ulung dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Kita tidak begitu tahu bahwa Sukarno adalah seorang muslim yang begitu taat dan menyayangi agamanya.

Walaupun buku ini begitu bergizi, Saya sendiri sedikit kesulitan untuk membacanya. Hal ini karena gaya tulisan yang ada dalam buku ini masih menggunakan gaya Bahasa Indonesia yang jadul dan masih banyak menggunakan diksi dari Bahasa Belanda. Tentu masalah ini bisa diminimalisir dengan searching di mesin pencari, akan tetapi hal tersebut sedikit merepotkan dan terkadang sulit mendapatkan jawaban yang pas. Mungkin dicetakan selanjutnya penerbit bisa menambahkan catatan kaki sebagai penjelasnya.

Pada Islam Sontoloyo, Sukarno tidaklah mengkritik Islam sebagai sebuah agama. Akan tetapi, Sukarno mengkritik Islam yang dipahami oleh penganutnya secara jumud, kaku, kolot, taklid buta, tidak progresif dan terjebak dalam romantisme masa lalu. Perlu sebuah pikiran yang open minded memang untuk bisa menerima semua gagasan-gagasan yang dilayangkan oleh Sukarno dalam buku ini. Jika tidak, mungkin pembaca akan mengalami konflik batin.

Dalam “Surat-Surat Dari Endeh” Sukarno membicarakan tentang kekolotan agama Islam beserta syariat-syariatnya serta apa-apa saja penyebab Islam saat ini begitu mundur. Dalam pengasingannya di Endeh (Flores, NTT) tersebut, Sukarno memang sedang giat-giatnya mempelajari Islam secara lebih mendalam. Tidak jarang juga Sukarno menyebarkan pemahaman Islam versi dirinya pada masyarakat dan berdiskusi dengan orang yang ahli agama di daerah tersebut.

Dalam buku ini Sukarno mengatakan bahwa kemunduran yang dialami oleh umat Islam saat ini tidak luput karena adanya ketidakseimbangan dalam mempelajari Islam itu sendiri. Sehingga umat Islam menjadi begitu kolot, kaku, penuh takhayul, bid’ah, taklid buta dan anti-rasionalisme. Padahal, jika umat Islam mau mempelajari ajaran yang murni dari Rasulullah niscaya Islam akan menggemparkan dunia kembali seperti era golden age of Islam.

Ketidak seimbangan itu terjadi karena umat Islam cenderung menjadikan fikih sebagai satu-satunya instumen dalam beragama. Padahal fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama Islam.

Apa yang kita pelajari saat ini bukanlah api Islam yang dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah, akan tetapi yang kita pelajari saat ini hanyalah abu dan debunya Islam saja. Tidak begitu berguna ーcan’t relate to reality.

Apa yang membuat itu terjadi? Dalam beberapa referensi lain yang saya pelajari, memang ada perbedaan karakteristik keislaman yang mendasar yang dianut oleh sahabat-sahabat Rasul yang masuk Islam sebelum Perang Badar dan setelah Perang Badar. Para sahabat Rasul yang masuk Islam sebelum perang badar banyak yang tergerak karena memang melihat Islam sebagai sebuah ajaran yang penuh dengan cinta kasih dan rahmat sehingga peradaban Kota Madinah ーyang terwujud hanya dalam waktu satu dekade ituー bagi mereka adalah sebuah kejayaan Islam. Berbeda dengan para sahabat yang masuk Islam setelah perang badar, mereka melihat Islam sebagai sebuah otoritas politik yang kuat. Itulah sebabnya penyebaran Islam pasca Khalifah Rasyidin banyak dilakukan melalui jalur ekspansi dan penaklukan. Ketika wilayah Islam semakin luas dan Bani Quraisy berjaya Itulah yang disebut sebagai kejayaan Islam ーbagi mereka yang masuk Islam setelah Perang Badar.

Ketika wilayah islam semakin besar maka otoritas politikpun harus lebih kuat untuk bisa mengontrol orang-orang Islam. Hal ini tentu untuk menciptakan kondusifitas wilayah kekhalifahan Islam ーalih-alih wilayah kerajaan. Oleh karenanya, untuk pertama kalinya Islampun mulai terlembagakan oleh Bani Umayah. Ceramah-ceramah di masjid mulai diatur dan diciptakan pula semacam dewan ulama agar “Islam tidak keluar dari ajarannya”. Sejak saat itu Islampun mulai kaku dan membeku.

Sampai sini mungkin kita sudah paham yah mengapa ada segerombolah orang Islam yang menginginkan syariat Islam tegak secara formal dalam sebuah negara. Mungkin, mereka pengikut orang Islam yang masuk pasca Perang Badar. Mungkin.

Sukarno dalam buku ini juga menerangkan ketidak percayaannya bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah seorang nabi bagi orang-orang Ahmadiyah dan belum pantas juga disebut sebagai seorang Mujaddid. Memang setahu saya ーjika salah tolong koreksi­ー dalam Madzhab Ahmadiyah sendiri keyakinannya terbagi lagi menjadi dua; pertama, Ahmadiyah Qadiyan yang percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad memang seorang Nabi; kedua, Ahmadiyah Lahore yang percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad hanya pembaharu dalam Islam.

Selain membahas Ahmadiyah, Sukarno juga memilki pendapat bahwa tabir (penyekat/hijab) antara perempuan dan laki-laki adalah lambang perbudakan terhadap perempuan. Hal ini Ia anggap sebagai sebuah ajaran yang tidak diajarkan oleh Nabi (bid’ah). Mungkin untuk masalah ini banyak dari kita yang kurang sepaham ーatau mungkin menolaknya dengan keras. Hal itu wajar saja, karena memang banyak dari kita yang masih terlalu Arab sentris dalam memahami Islam.

Penolakan adanya tabir oleh tokoh nasional kita bukan hanya pernah dilakukan Sukarno saja, Haji Agus Salim pun demikian. Bahkan, Haji Agus Salim pernah merobek tabir secara langsung oleh dirinya sendiri dalam sebuah pertemuan Jong Islamieten Bond (JIB) di Jogja.

Banyak dari kita yang mungkin menganggap bahwa pemakaian tabir dalam sebuah forum hanyalah semata-mata untuk melindungi agar laki-laki dan perempuan tidak saling memandang. Hal itu bisa dibenarkan dan memang cukup rasional alasannya. Akan tetapi, kebiasaan menggunakan tabir dalam sebuah forum ini bisa menjadi sebuah masalah jika dikemudian hari orang-orang menganggap hal itu sebagai sebuah syariat Islam yang harus dijalankan, tanpa pernah tahu bahwa tabir hanyalah sebuah budaya yang berasal dari Arab. Dan simbol perbudakan tentunya.

Untuk permasalahan ini Sukarno memberikan sebuah analogi. Jika memang penggunaan tabir harus digunakan sebagai alat agar perempuan dan Laki-laki tidak saling memandang ーkarena dalam Islam baik perempuan ataupun laki-laki harus menjaga pandangannyaー, kenapa kita juga tidak menjahit mulut kita agar kita tidak berdusta? Toh berdusta juga sama-sama dilarang. Tentu terlalu berlebihan jika kita harus menjahit mulut kita agar tidak berdusta. Alangkah lebih baik cukup saja menjaga mulut kita agar tidak berbuat demikian. Demikian pula dengan penggunaan tabir. Cukup saja laki-laki dan perempuan tidak saling pandang dan tidak perlu berlebihan untuk memakai tabir. Kalaupun ada yang saling pandang ーapalagi sampai mayoritasー maka, kita perlu mempertanyakan keislamannya dan mengapa ajaran Islam tidak meresap padanya.

Bab yang paling saya suka dalam buku ini adalah bab dengan tajuk “Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara?”. Dalam bab ini Sukarno menjelaskan secara panjang dan lebar sebuah rentetan peristiwa yang menjadi sebab musabab Mustafa Kemal Pasha ーAtatürk (Bapak Bangsa Turki)ー begitu gigih memisahkan urusan agama dan negara di Turki. Pemisahan ini tentu saja bukanlah sebuah hal yang mudah dilakukan oleh Mustafa. Karena, Turki memiliki sebuah tatanan pemerintahan yang begitu kolot. Selain itu, banyaknya ulama-ulama konservatif dan rakyatnya yang telah mabuk “agama” pun menjadikan cita-cita tersebut akan semakin sulit terealisasikan.

Akan tetapi, hambatan itu berhasil dilalui oleh Mustafa dengan begitu indah. Begitu indah karena memang pemisahan ini dilakukan tanpa menimbulkan sebuah konflik yang mengucurkan darah Bangsa Turki. Pokoknya, pembaca sekalian akan mengerti apa yang saya maksud “indah” ini jika pembaca membaca buku ini.

Namun sayang, hingga saat ini masih banyak orang yang mencaci Mustafa Kemal Atatürk karena capaiannya tersebut. Mereka men-cap Bapak Bangsa Turki ini sebagai pengkhianat Islam, orang Yahudi yang menyamar sebagai Islam, penghancur khilafah, hingga pemberian gelar laknatullah dibelakang namanya. Sungguh, begitu keji tuduhan mereka.

Yang paling menggelikan dari semua tuduhan itu adalah tuduhan Mustafa sebagai orang Yahudi yang menyamar. Are you kidding Me dude? Jika memang tuduhan tersebut benar, seharusnya hari ini masjid di Turki sudah digantikan oleh sinagoge dan adzan digantikan oleh shema yisrael.

Padahal, apa yang dilakukan oleh Mustafa Kemal iti bukanlah upaya untuk menghancurkan Islam, melainkan suatu upaya menyelamatkan Islam dari sebuah otoritas kekuasaan. Dan jika kita mau jujur pada sejarah, Agama Islam ini memang sering digunakan sebagai tameng untuk berlangsungnya sebuah kekuasaanーdan tidak jarang pula digukan sebagai pedang untuk mendongkel sebuah kekuasaan yang sedang berlangsung. Bisa kita telusuri jejaknya dimulai pasca perang badar yang telah saya sampaikan di atas.

Pada akhirnya Islam Sontoloyo ini memberikan kita sebuah ajakan bahwa kita harus waras dalam beragama. Kita harus mempelajari dan memahami Islam secara menyeluruh (kaffah). Kita harus menolak Islam yang jumud, kaku dan kolot yang mengajarkan ketaklidan, fatatisme dan anti-rasionalitas sehingga membuat kita mabuk agama (majnun). Ada banyak hal yang saat ini kita yakini sebagai sebuah kebenaran atas nama agama namun ternyata itu jauh dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam buku ini Sukarno pun mengecam orang-orang yang berislam dengan cara menonjolkan penampilannya saja, seperti berjubah, memiliki imamah yang besar dan setiap saat memutar-mutar tasbihnya, namun disisi lain royal mengkafirkan pengetahuan dan penemuan dari Barat. Ini yang dimaksud Sukarno bahwa apa yang kita pelajari saat ini bukanlah apinya Islam, tetapi debunyaーapa yang saat ini kita lihat sebagai Islam hanyalah kulitnya saja bukan ruhnya. Mari kita insaf betul tentang bagaimana cara kita beragama.

Sebagai penutup Saya akan menceritakan sebuah dialog pendek antara Sukarno dan anaknya Ratna yang ada pada bab ”Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara”

Pada suatu hari, anjing Sukarno menjilat air di panci dekat sumur. Anak angkatnya, Ratna Djuami berteriak, “Papie, papie si Ketuk menjilat air di dalam panci!”

“Buanglah air itu, dan cucilah panci itu beberapa kali bersih-bersih dengan sabun dan kreolin” Jawab Sukarno.

Ratna termenung sebentar, kemudian dia bertanya, “Tidakkah Nabi bersabda bahwa panci ini musti dicuci tujuh kali, diantaranya satu kali dengan tanah?”

Sukarno menjelaskan, “Ratna, di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin! Nabi waktu itu tidak bisa memerintahkan orang memakai sabun dan kreolin.”

Tags: , , ,

Related Article

5 Comments

Indra Lesmana Bahari 27 Desember 2019 at 02:15

Makin kece aja nih sudut.id

    Admin 29 Desember 2019 at 16:40

    Mindset[.]id juga bakal kece ini

El 26 Desember 2019 at 19:58

Menurut saya, resensi yang ditulis cukup lugas dan jelas dalam menceritakan garis besar dari buku “Islam Suntoloyo”.
Disini yang saya suka, penulis di awal, sebelum cerita tentang resensinya, dia memposisikan diri sebagai seseorang yang ga terlalu paham mengenai islam, tapi dia mencari tau lebih dalam tentang islam.
Nah dari hal itu kemudian penulis menjelaskan bahwa buku “Islam Suntoloyo” ini bisa menjadi solusi bagi mereka yang ingin mencari tau islam lebih jauh lagi tetapi dengan pandangan yang lebih terbuka.
Sehingga orang orang yang baca resensi nya jadi penasaran mengenai topik dalam buku ini.
Penulis juga disini gak cuma ngejelasin kelebihan dari bukunya doang tapi juga ngejelasin kelemahan dari bukunya serta ngasih solusi juga buat ngatasin kelemahan itu

Ridwan Hasan 26 Desember 2019 at 16:43

Akan tetapi kisah Sukarno dengan anjingnya itu pernah dikritik oleh Natsir sebagai “akal merdeka yang salah pasang” 😀

Natsir menganggap bahwa mencuci najis anjing tujuh kali dengan satu kalinya menggunakan tanah bukan hanya persoalan duniawi saja. Tapi, persoalan ubudiyah yang sudah diatur oleh Islam layaknya berwudhu, tayamum, dllnya.

Jika banyak dari kita yang berpikir semerdeka itu dalam beragama mungkin kedepan akan ada orang yang membolehkan bertayamum dengan menggunakan bedak karena tidak adanya debu.

Maksud dari kritik Natsir disini dia bukan menolak akal yang merdeka dan harus bersikap taklid saja. Natsir sepakat dengan adanya akal yang merdeka karena hal itu akan membuat manusia terbebebas dari takhayul-takhayul dalam agama yang memang harus disingkirkan. Akan tetapi, kemerdekaan tersebut juga harus memilki sebuah batasan.

#CMIIW

Muhammad Noval Al Arsy 26 Desember 2019 at 09:54

Keren ihh tulisannya, membuat kita jadi lebih Terbuka dalam mempelajari Islam, gak membuat kita menjadi kolot dan kaku dlm mempelajari Islam secara kaffah☺️👍👍

Tinggalkan Balasan dan Mari Kita Berdiskusi

Kategori

  • Esai (17)
  • Resensi (3)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (2)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE

    Kategori

  • Esai (17)
  • Resensi (3)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (2)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE