Minggu, Juni 20, 2021
Untuk Kaum Muda: Perihal Hari Tua

Pernah ada yang mengatakan semua penyakit ada obatnya, kecuali Tua. Jika Tuhan menghendaki, kita akan sangat beruntung bisa menghirup udara dalam waktu yang lama. Bahkan disetiap peringatan hari kelahiran, kita selalu berdo’a untuk diberikan kesehatan dan umur yang panjang, karena tak ada satupun dari kita yang ingin meninggalkan dunia ini di usia muda.

Dikatakan usia tua adalah ketika seseorang menginjak kepala enam. Banyak yang beranggapan di usia itulah manusia sudah memiliki banyak keterbatasan. Fisik yang tidak sekuat dulu, kemampuan mengingat yang perlahan memudar, pengelihatan tidak sejernih saat muda, dan sebagainya. Di usia 60-an jugalah biasanya orang-orang sudah pensiun kerja, banyak pencapaian yang sudah terpenuhi sehingga biasanya mereka tinggal menikmati sisa hidup dengan santai dan damai.

Hampir semua dari kita, kaula muda pasti menginginkan hidup dengan sangat berkecukupan, dan bisa mewariskannya kepada anak cucu kelak. Kita berharap saat menginjak usia tua, kita tinggal menikmati sisa waktu dengan nyaman. Kita bisa pergi jalan-jalan mengunjungi tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya, makan makanan yang enak bersama keluarga, atau yang paling sederhana kita tinggal duduk diatas kursi goyang sambil menikmati secangkir teh.

Maka, menjadi sebuah hal yang wajar jika kita sibuk mempersiapkan materiil untuk menyambut hari tua nanti. Ada yang bekerja di perusahaan atau instansi, membuka bisnis sendiri, berinvestasi, bahkan mempersiapkan tabungan pensiun untuk mewujudkan hari tua yang diimpikan. Rasanya, ketika kadaan materiil sudah siap, kita bisa menghadapi hari tua dengan tenang. Bukan hal yang mudah pastinya, dan itu sangatlah hebat.

Namun, ada satu hal yang sering kita lupakan. Selain materiil, kita juga perlu mempersiapkan non-materil, yaitu kesenangan batin. Dimana ketika memasuki usia tua, para kakek dan nenek justru lebih banyak diam dan menyembunyikan masalah yang dihadapinya. Sedikit sekali yang mau berbagi tantang apa yang mereka rasakan. Hal ini menimbulkan rasa sepi yang sangat mencekam, karena di usia tua justru bisa menimbulkan rasa bosan dan bingun tentang “Apa lagi yang harus dilakukan?”

Saat memasuki umur 20-an hampir setiap orang mengalami masa krisis seperempat abad. Kita mengalami keadaan emosional yang tidak beraturan, seperti kekhawatiran, keraguan pada diri sendiri, atau bimbang dalam menentukan arah hidup, dan hal yang biasanya dilakukan anak muda untuk menghadapi krisis tersebut adalah dengan bertanya. Kita bisa bertanya pada orang tua atau guru dan curhat dengan sahabat dekat untuk menemukan jawaban atas keresahan itu. Ketika kesepian pun kita bisa dengan mudah pergi kesana-kemari untuk mengatasinya.

Namun, saat kita mengalami krisis paruh baya, dimana kita disatu sisi kita lebih dekat dengan kematian, sementara di sisi lain kita masing ingin bersenang-senang dan menikmati hidup, apa yang bisa kita lakukan?

Itulah yang dirasakan orang tua kita. Bukan tentang harta, tapi tekanan emosional yang dialami. Saat orang tua dan guru-guru yang biasanya jadi tempat untuk menemukan jawaban mungkin sudah tidak ada lagi di dunia, para sahabat juga sudah tidak lagi bisa dijadikan tempat bercerita, karena mungkin keadaan mereka sudah tidak lagi sama. Mereka juga sudah tidak mampu untuk bepergian dengan leluasa karena begitu banyak keterbatasan.

Tidak banyak yang bisa dilakukan ketika sudah menjadi tua. Mungkin akan lebih banyak menelan pahit daripada memilih yang manis, lebih banyak mengamati daripada bertindak. Semua ini bukan pilihan, melainkan ketidakberdayaan di usia yang sudah tidak lagi muda. Ketika ingin mengungkapkan keresahan yang dialami kepada anak-anaknya, tapi anak-anaknya sibuk dengan kelurganya. Ketika ingin berbicara kepada pasangan, tapi mungkin pasangan sudah pikun, tidak mendengar, sedang sakit-sakitan, atau bahkan sudah meninggal duluan. Lalu, kemana harus mencari jawaban dan bertanya tentang kebingungan hidup atau menghilangkan rasa sepi itu?

Kebingungan di usia tua menjadi pemicu terjadinya penyakit seperti pikun, rabun, tuli, dan lain-lain. Ini terjadi akibat stres atau bahkan depresi karena terlalu sering menahan rasa sepi atau menyimpan keresahan sendiri yang tidak terselesaikan, hal itu menyebabkan tergganggunya syaraf-syaraf yang sudah tidak lagi muda di dalam otak.

Sedikit bercerita, hari itu saya sedang menemani nenek saya yang sayangnya pendengarannya sudah tidak setajam dulu. Saya sangat bersyukur nenek hidup dalam berkecukupan, sehingga uang bukanlah masalah dihari tuanya. Namun, saat itu nenek mengungkapkan perasaannya “Anak-cucu sekarang sibuk nyari uang buat tabungan nanti kalau udah tua, tapi lupa sama yang sudah tua. Harta emang butuh untuk hari tua, tapi yang tua lebih butuh temen. Kalau masih muda masih bisa jalan untuk saling menyapa, silaturahmi. Kalau udh tua? Jalan aja susah, mata udah rabun, telinga udah tuli.”

Ucapan nenek saat itu membekas sekali dan membuat saya berpikir betapa sepinya hari tua. Dan ucapan seperti itu bukanlah yang pertama kali saya dengar. Saya pernah mendengarnya ketika saya berada di dalam angkutan umum, di ruang tunggu rumah sakit, di pasar, dan di tempat-tempat lainnya. Para orang tua selalu mengatakan topik yang sama, seperti sebuah isyarat agar kita, kaula muda lebih memperhatikan mereka. Seperti sebuah permintaan terakhir dari mereka, jika bukan kita yang menemani, siapa lagi? Jika bukan kita yang memahami, siapa lagi? Mungkin bagi kita hari esok masih seperti sebuah kepastian, tapi bagi para orang tua, setiap harinya seperti salam perpisahan.

Bukankah pada akhirnya kita juga akan menjadi tua? Lantas, sudah seberapa banyak kita meluangkan waktu untuk orang tua kita yang masih ada saat ini? Ketika kita sibuk menarik nafas untuk menata masa depan, orang tua kita sibuk menahan helaan nafas karena ingin menikmati kebersamaan bersama anak dan cucunya.

Uang tidak lagi menjadi kesenangan dihari tua, kesenangan batin tidak bisa dibeli oleh uang. Terkadang orang tua juga bersikap kekanak-kanakan karena ingin mendapatkan perhatian. Maka, jangan ragu meluangkan waktu untuk orang tua meski hanya bisa satu hari dalam seminggu. Orang tua kita membutuhkan teman berbincang yang mau memahami keadaannya.

Hal ini juga penting untuk kita ketahui sejak dini, agar kelak kita mampu menanamkan rasa welas asih kepada anak kita. Bahwa orang tua juga manusia yang bisa merasakan bosan, merasa sedih, merasa sepi yang perlu kita perhatikan dan kita temani.

Tags: ,

Related Article

No Related Article

0 Comments

Tinggalkan Balasan dan Mari Kita Berdiskusi

Kategori

  • Esai (27)
  • Resensi (4)
  • Sastra (9)
  • Tokoh (1)
  • Unique (4)
  • Ikuti Kami!

    Kategori

  • Esai (27)
  • Resensi (4)
  • Sastra (9)
  • Tokoh (1)
  • Unique (4)
  • Ikuti Kami!