Selasa, Desember 1, 2020
Lakum Diinukum Wa Liya Diin

Persatuan dan kesatuan mungkin hanyalah sebuah utopia bagi Bangsa Indonesia. Karena nyatanya setiap saat kita selalu menciptakan perpecahan demi perpecahan. Kita selalu mempermasalahkan apa-apa yang tidak benar menurut kita. Mulai dari ideologi, kepercayaan hingga komitmen bersama bangsa ini. Kita cenderung mempunyai subjektifitas yang tinggi dan menempatkannya pada barisan paling depan.

Sekarang, cerita guru saya mengenai bangsa lain yang begitu iri dan kagum terhadap kerukunan dan budaya gotong royong yang ada di Indonesia mulai terdengar seperti omong kosong. Cerita tersebut tidak lebih dari sekedar dongeng yang sengaja dituturkan orang tua kepada anaknya agar si anak merasa negeri ini baik-baik saja.

Samakin tumbuh dewasa saya semakin melihat kebenaran. Kebenaran bahwa persatuan dan kesatuan di Indonesia ternyata hanyalah sebuah nilai yang dipaksakan.

Sejatinya, budaya bangsa kita ini bukanlah budaya kerukunan. Akan tetapi budaya perpecahan dan intoleransi yang begitu tinggi.

Jika kita melihat sejarahnya, Indonesia ini memang telah melewati banyak sekali peristiwa yang memancing perpecahan. Mulai dari konflik ideologi (G30S), etnis (Peristiwa 1998), suku (Peristiwa Sampit), agama (Peristiwa Ambon 1999) hingga golongan (Peristiwa Ahmadiyah). Akan tetapi pada akhirnya berhasil kita satukan kembali dengan paksa dan menutupi peristiwa tersebut kepada anak-anak kita.

Dengan melihat sejarah yang ada, bagaimana bisa kita ini malah memimpikan sebuah persatuan dan kesatuan? Menanam buahnya saja tidak mau, tetapi kita malah ingin memakan rujaknya.

Atau jangan-jangan narasi persatuan dan kesatuan ini hanyalah brainwash yang memang dilakukan secara nasional untuk tujuan tertentu? Entah lah, mungkin kita bisa menjawabnya masing-masing dengan informasi dan data yang kita miliki saat ini.

Bagimu agama mu, bagiku merusak iman ku

Baru-baru ini kita disuguhkan kembali dengan kejadian yang menambah daftar panjang peristiwa yang mengundang perpecahan di Indonesia. Peristiwa ini tentu menyakiti kita sebagai bangsa yang memegang teguh semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang begitu sakral.

Peristiwa ini terjadi di Jawa Barat tepatnya di Cigunjur, Kabupaten Kuningan. Dalam kejadian tersebut ada sekolompok ormas islam yang menolak pembangunan bakal makam sesepuh Sunda Wiwitan dengan alasan khawatir menjadi sumber kemusyrikan dan tempat pemujaan.

Sialnya bagi masyarakat Sunda Wiwitan, penolakan tersebut justru malah disemangati oleh negara dengan cara menyegel bangunan yang dimaksud karena alasan tidak memiliki IMB. Fungsi negara yang seharusnya melindungi masyarakat pun hilang, malah ikut-ikutan ‘mengeroyoki’ masyarakatnya. Padahal jika alasannya hanya IMB, mushola/masjid yang ada di Indonesia pun banyak yang tidak mengantongi izin tersebut. Apalagi hanya sekedar makam di tanah pribadi.

Saya sendiri menduga bahwa penyegelan ini hanyalah akal-akalan yang sengaja dibuat agar penolakan ini terlihat lebih halus. Inti dari semua itu hanyalah karena memang rasa intoleransi yang tinggi serta usaha pemusnahan eksistensi Masyarakat Sunda Wiwitan yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Persis seperti pengosongan kolom agama pada KTP bagi ‘penghayat kepercayaan’ —saya lebih suka mengatakan penganut agama leluhur— yang berhasil digugat dan dibatalkan MK. Alhamdulillah.

Negara —yang dalam hal ini tugasnya dijalankan oleh pemerintah setempat— memberikan pesan kepada masyarakat Sunda Wiwitan jika ingin melanjutkan pembangunan makam ini diharuskan untuk membuat IMB-nya terlebih dahulu. Apabila dalam kurun waktu 30 hari tidak memiliki izin, maka, bakal makam sesepuh tersebut akan dibongkar paksa oleh Sapol-PP.

Bagai air di daun talas ketika masyarakat Sunda Wiwitan mengindahkan ‘syarat’ tersebut, dinas terkait justru tidak memberikan izin lantaran adanya penolakan dari MUI Desa Cisantana. Dan penolakan MUI tersebut didasarkan hanya karena kekhawatiran semata. Tanpa alasan dan dasar yang jelas.

“Karena ‘benda’ tersebut terlihat asing bagi kami. Maka, kami khawatir tempat ini menjadi tempat pemujaan dan kemusyrikan. Tau sendiri kan iman kami ini sangat lemah!?”

“Apa tidak dimusyawarahkan dulu dengan mereka terkait kekhawatiran tersebut?”

“Oh tentu itu tidak perlu karena ini sudah menjadi jalan yang terbaik bagi mereka. Daripada nanti kita acak-acak kan? Eh kitanya bakal dianggap ekstrimis dan radikal lagi. Padahal kan mereka yang cari gara-gara duluan sama kita. Hehehe.”

Begitulah kira-kira dialog imajiner yang coba saya gambarkan dari alasan penolakan ormas islam tersebut. Gak nyambung? Yah emang begitu adanya!

Saling

Bagi saya sendiri penolakan atas simbol agama tertentu baik itu rumah ibadah, ritual keagamaan atau bahkan bentuk kuburannya sekalipun adalah sebuah tindakan yang bertentangan dengan Pancasila. Terlebih sila pertamanya.

Semua orang yang bertuhan diperbolehkan untuk menjalankan ritual keagamaannya masing-masing dengan perasaan tenang dan aman di sini. Baik itu Sunda Wiwitan, Kejawen, Hindu Tengger, Ahmadiyah, Syiah bahkan Yahudi sekalipun dipersilahkan. Selama kita tidak saling mengganggu. Kita harus sama-sama saling silih asih silih asah silih asuh.

Iman

Musyrik adalah sebuah terminologi yang ada di Islam. Sama halnya seperti kafir, syahadat dan lain sebagainya. Kita tidak bisa menggunakan standar nilai yang ada dalam keyakinan kita untuk digunakan kepada orang lain.

Walaupun bukan seorang Sunda Wiwitan, yah, belajar sedikit tentang prinsip-prinsip dasarnya gak bakalan jadiin kita kafir kok. Karena setahu saya Sunda Wiwitan ajarannya sudah monoteisme yang dimana tuhannya yaitu Sang Hyang Kersa yang bersemayam di Buana Nyungcung.

Mereka bukan penganut ajaran animisme atau dinamisme. Jadi, bisa kita asumsikan bahwa makam itu hanya tempat pasarean untuk tokoh yang dihormati oleh mereka. Sama seperti halnya makam sultan/ulama islam yang biasanya dibuat agak berbeda.

Tapi, walaupun semisalnya itu adalah tempat pemujaan. Masalahnya bagi kita sebagai muslim itu apa sih? Musyrik itu kan ditujukan kepada seorang muslim atau orang diluar golongan islam yang melakukan perbuatan syirik dengan nilai-nilai pakem yang ada di islam.

Lha mereka kan emang begitu keimananya. Mau diapain lagi? Tuhan mereka sudah jelas Sang Hyang Kersa. Bukan Allah SWT. Kalau misalnya kita yang kebawa jadi musyrik ya berarti masalahnya bukan ada pada mereka. Tapi, keimanan kita sendiri yang memang lemah.

Eh, entar geh. Itu imannya yang goyah apa emang sudah mendapat hidayah dari Sang Hyang yah?

Tags: ,
Kadang beriman kadang bejad. Dekat dengan Tuhan dan bersahabat dengan "sepi".

Related Article

No Related Article

0 Comments

Tinggalkan Balasan dan Mari Kita Berdiskusi

Kategori

  • Esai (24)
  • Resensi (4)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (4)
  • Ikuti Kami!

    Rekomendasi

    Takut

    Takut

    5 Februari 2019
    Gus, Kau Pahlawanku

    Gus, Kau Pahlawanku

    10 November 2017
    Politik Warung Kopi
    Pak, Allah Itu Seperti Apa?
    Kemarin Kau yang Bilang

    Kategori

  • Esai (24)
  • Resensi (4)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (4)
  • Ikuti Kami!