Apa Kantong Plastik Mesti Disalahkan?

Belakangan ini saya lihat usaha mengurangi sampah plastik semakin gencar dilakukan oleh berbagai kalangan di dunia. Berbagai cara untuk mengatasi sampah yang kelewat sulit terurai itu sepertinya tidak pernah kehabisan ide.

Di Indonesia khususnya, pemerintah berkomitmen mengurangi sampah plastik di laut sampai 70 persen pada tahun 2025. Apalagi setelah The World Bank pada tahun 2018 menyatakan bahwa Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia sebanyak 1,27 juta ton per tahun, setelah negara Cina yang mencemari laut dengan sampah plastik sebesar 3,35 juta ton per tahun.

Dilanjutkan dengan data yang diberikan oleh Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun, dengan 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Dari sumber yang sama menyatakan kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

Selain itu, plastik tidak bisa menyatu sempurna dengan tanah. Bahkan lebih parahnya, ketika terdegradasi dan menjadi mikro plastik, zat kimia yang terkandung dalam plastik bisa menjadi racun bagi lingkungan dan makhluk hidup yang ada di bumi.
Ih ngeri banget ya~

Karena fakta-fakta mengerikan itulah semakin banyak masyarakat yang sadar akan green lyfe. Setelah upaya mengurangi sedotan plastik dengan menggunakan sedotan stainless, upaya mengganti kantong plastik dengan tas kertas (paper bag) juga terus dilakukan.

Selain efek lingkungan, penggunaan shopping bag yang terbuat dari kertas juga menjadikan kita lebih fashionable dan modis. Yah keren aja gitu. Berasa habis belanja dari mall-mall gede. Dan yang terpenting, paper bag ini dibuat menggunakan bahan kertas yang sangat mudah di daur ulang. Go Green. Beda sekali dengan kantong plastik yang dibuat dari bahan plastik−musuh kita semua.

Perusahaan pakaian ternama Uniqlo, restoran cepat saji KFC Indonesia di Bali, Jambi dan Kalimantan Selatan adalah beberapa contoh dari banyaknya perusahaan yang sudah mulai mengganti kantong plastik ke tas kertas. Toko daring yang saya temui di Instagram pun sudah banyak yang menggunakan paper bag bahkan tote bag (tas kain) sebagai pembungkus produknya karena lebih modis, terkesan premium dan tentu saja ramah lingkungan.

Yang terbaru adalah perusahaan Gojek yang juga akan ikut mengurangi pemakaian kantong plastik dengan tas pengantar khusus makanan untuk GoFood. Keren banget ya.

Tapi, benar tidak ya kalau mengganti kantong plastik ke paper bag bahkan tote bag itu bisa menyelamatkan lingkungan? Terus kenapa kantong plastik diciptakan? Padahal paper bag dari dulu juga sudah ada.

Seperti Lingkaran Setan

BBC News melansir, kantong plastik pada awalnya justru dibuat untuk menyelamatkan bumi dari penebangan pohon. Nah lho, gimana?
Dulu, tahun tahun 1959 seorang ilmuan asal swedia yang bernama Sten Gustaf Thulin merasa gelisah dengan penggunaan kantong kertas atau paper bag yang sangat masifーseperti penggunaan kantong plastik saat ini. Paper bag pada saar itu hanya dapat digunakan untuk satu kali pakai dan berujung pada banyaknya penebangan pohon. Karena apa? Ya karena kertas itu terbuat dari pohon!

Lalu, Sten Gustaf Thulin memiliki sebuah ide untuk membuat sebuah kantong yang tahan lama dan bisa dipakai berkali-kali agar penebangan pohon berkurang dari bahan dasar plastik. Kita saat ini mengenalnya dengan sebutan kantong kresek.

Menurut penuturan Raoul Thulin, anak dari penemu kantong kertas itu menyatakan, ayahnya selalu membawa kantong plastik didalam sakunya, karena bisa digunakan berkali-kali dan mudah untuk dilipat dari 1970 sampai 1980.

Jadi, ketika sekarang kita kampanye “Bawa tas belanjaan sendiri” ternyata Sten Gustaf Thulin sudah mempraktekannya sejak dulu dengan kantong plastiknya tersebut.

Nah kan, apakah kantong plastik harus disalahkan ketika ia diciptakan justru untuk menyelamatkan?

Tapi ya seperti lingkaran setan, nasib kantong plastik ini berakhir sama seperti pendahulunya − paper bag − digunakan dengan cara yang salah oleh manusia. Karena terlalu dimanja dengan menggunakan plastik, manusia saat ini jadi malas untuk membawa tas belanjaannya sendiri. Ngapain? Kan kantong plastik sudah tersedia di mana-mana.

Jadi, kantong plastik yang harusnya bisa digunakan berkali-kali malah dibuang setelah satu kali pakai.

Bisa kita bayangkan perasaan Sten Gustaf Khulin ketika niat baiknya untuk menyelamatkan bumi penemuannya itu justru menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia.

Dampaknya sekarang kantong plastik mulai digantikan kembali dengan paper bag atau tote bag. Padahal paper bag atau tote bag tidak lebih baik dari kantong plastik. Kenapa?

Menurut penelitian dari UK Environment Agency dalam produksi kantong plastik lebih hemat energi dibandingkan jenis kantong lainnya.
Kantong plastik lebih unggul daripada paper bag karena mengonsumsi energi 40% lebih sedikit, menghasilkan limbah padat 80% lebih sedikit, dan melepaskan hingga 94 persen lebih sedikit limbah air.

Biaya produksinya juga hanya sekitar seperempat dari biaya produksi paper bag dan dikarenakan bobotnya yang ringan, dibutuhkan lebih sedikit bahan bakar fosil untuk mendistribusikannya.

Dari riset yang sama mengungkap, membutuhkan lebih banyak energi dan air untuk memproduksi tote bag berbahan kanvas, karena kanvas kebanyakan terbuat dari kapas.

Dampak lingkungannya adalah satu kantong plastik yang sudah didaur ulang sebanding dengan paper bag baru yang hanya bisa dipakai tiga kali, atau tote bag baru yang hanya bisa dipakai 131 kali, sementara kantong plastik ini bisa didaur ulang lagi.

Ternyata dalam produksinya paper bag dan tote bag lebih berbahaya dibandingkan dengan kantong plastik. Jadi solusinya apa dong?

Bijak Penggunaan

Tentu saja tulisan ini dibuat bukan untuk membela kantong plastik dalam persaingan shopping bag.

Kantong plastik jelas tidak ramah lingkungan saat ini, keberadaannya harus kita kurangi. Fakta bahwa plastik menjadi pengaruh paling merusak ekosistem laut dan sangat sulit di daur ulang tidak bisa kita kesampingkan.

Banyaknya gerakan mengganti kantong plastik ke paper bag juga bukan solusi terbaik mengingat bahan utama membuat paper bag adalah pohon. Ya memang sih, memang… paper bag mudah di daur ulang, tapi kalau kehadirannya kembali ngehits dan justru membuat pohon semakin banyak di tebang ya sama saja dong, bahaya untuk iklim bumi yang sudah semakin panas ini. Apalagi, tren green lyfe ini bukan hanya tentang kantong plastik. Sedotan dari bambu, sisir berbahan kayu dan sikat gigi bergagang bambu mulai bermunculan dan naik daun.

Wah bahannya dari pohon semua tuh! habis dong, mana menanamnya susah dan lama pula hmmm~

Kesalahan manusialah yang menyebabkan sampah plastik membeludak seperti saat ini, jangan sampai kita mengorbankan pohon untuk memperbaikinya.

Jadi, kita sebagai konsumen yang menyayangi bumi solusinya adalah gunakan kantong yang kita miliki sesering mungkin, baik itu terbuat dari plastik, kertas, atau kain. Gunakan secara berulang-ulang dan gunakan semaksimal mungkin sampai rusak dan bisa didaur ulang kembali.

Nah, sambil menghabiskan massa penggunaan tas belanja yang dimiliki, jangan menambah jumlah kantong plastik, paper bag atau wadah lainnya. Dan selalu ingat untuk membuang sampah apapun pada tempatnya, oke.

Meski kita pindah hati ke jenis kantong manapun, tetap tidak bisa menyelamatkan bumi dari krisis lingkungan ini, jika hanya sekali pakai lalu dibuang – apalagi sembarangan. Pokoknya jangan.

Tags:
Merupakan mahasiswa yang aktif dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan sangat tertarik dengan isu-isu perempuan

Related Article

No Related Article

4 Comments

M Daud Elnizar 24 November 2019 at 23:07

Buanglah sampah pada tempatnya. Laut bukanlah tempat pembuangan sampah akhir. Laut merupakan sumber kehidupan manusia. Laut mati, maka kehidupan pun mati.

#Lautan_Hidup

Arif Rohman 24 November 2019 at 19:15

Gagasan yang elegan 👍

Muhammad Noval Al Arsy 24 November 2019 at 18:41

Mantapp bangett loh, penulis sangat peka dan peduli terhadap lingkungan yang makin hari makin merajalelanya sampah-sampah yang berserakan di daratan dan khususnya lautan, dgn kepekan tersebut, penulis mengajak kepada kita semua utk sadar memujudkan green life agar lingkungan kita menjadi go green 😁

SilfiMencus 24 November 2019 at 17:17

Mantaaaaappp ih kecjeeeeeehhhh

Tinggalkan Balasan dan Mari Kita Berdiskusi

Kategori

  • Esai (19)
  • Resensi (3)
  • Sastra (9)
  • Tokoh (1)
  • Unique (2)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE