Sabtu, Mei 30, 2020
Akselerasi PMII Terhadap Perubahan

Bulan April adalah momen istimewa bagi sahabat/i disegala penjuru Indonesia—khususnya bagi saya. Tepat 17 April 1960 adalah noktah gagasan besar mulai digoreskan, dimana sebuah organisasi kemahasiswaan lahir dengan mengusung perpaduan antara nuansa keislaman dan ke-Indonesiaan. Sebagai suatu langkah ikhtiar ikut serta merawat, mewarisi dan menjaga integritas kebangsaan yang majemuk.

Singkat cerita, semenjak tahun 2017 awal mengikuti Mapaba (Masa Penerimaan Anggota Baru) hingga sekarang, sebenarnya saya belum pantas apabila membicarakan seluk beluk PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Semisal menguliti bagaimana karakter organisasinya, landasan ideologinya serta daya juang gerakannya. Tentu masih perlu banyak belajar. Kalaupun tau, ya cuma sedikit-sedikit dari berbagai penuturan, pendoktrinan, pengalaman, maupun hasil sublimasi pemikiran beberapa senior, diskusi-diskusi insidental maupun buku-buku terkait.

Alhasil, tulisan ini dipersembahkan sebagai bagian dari bentuk refleksi, penyegaran dan kecintaan seorang kader terhadap rumahnya. Terlepas bagaimanapun kekurangan dan kelebihannya. Sebagai anggota maupun kader, kita sama-sama memiliki hak untuk mengkritik sekaligus berkewajiban juga membangunnya.

Sekalipun saya terbilang terlambat mengikuti proses Mapaba—waktu itu semester 3. Tetapi, saya sangat bersyukur karena telah melewati beberapa pertimbangan sebelum menjatuhkan pilihan. Keterlambatan seseorang bergabung dengan PMII bukan menjadi tolak ukur mengenai serius atau tidaknya ia dalam berorganisasi. PMII saya pilih berdasarkan hasil perhitungan-perhitungan. Tidak gegabah dan sembarang.

Adapun pada waktu itu, saya insyaf dan sadar memilih PMII sebagai rumah belajar, wadah bereksplorasi sekaligus menjadi ruang penemuan jati diri. Oleh karena sudah saya niatkan semenjak awal mengikuti Mapaba, saya hendak sungguh-sungguh mau mengenali Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Lambat laun, akhirnya terjalinlah sebuah “hubungan intim” antara saya dan PMII akibat beragam pergulatan batin, pemikiran maupun perbuatan yang pernah dilakukan dari tingkat Rayon hingga saat ini di Komisariat. Sehingga, sadar ataupun tidak, hal tersebut yang sebenarnya menumbuhkan kecintaan terus-menerus saya terhadap PMII. Bahkan, hampir setiap kondisi sudah pernah saya rasakan, baik ketika susah, senang, berjuang hingga berkorban. Semuanya terakumulasi dalam satu nafas: pengabdian.

Namun pada akhirnya, berbicara hukum alam tetap saja berlaku sama, bahkan dengan yang lebih dulu bergabung. Contohnya, sahabat seangkatan yang Mapaba disemester satu hasil dorongan pola-pola ajakan, indoktrinasi, persuasi kesamaan kultur dan visi, atau—sekadar strategi supaya lebih dekat dengan sahabati—juga ternyata banyak yang sekarang tidak kelihatan batang hidungnya. Proses seleksi alamiah organisasi yang akhirnya menentukan. Sehingga terbagilah beberapa klasifikasi; Ada yang benar-benar militan, ada yang ala kadarnya dan tidak dipungkiri bahkan ada yang memilih tak acuh, bodoamatan, lalu kemudian perlahan meninggalkan.

Akan tetapi, terlepas apapun alasannya—ketidaknyamanan, keterbatasan waktu, kesibukan kuliah, atau hal-hal yang sangat privasi—tapi tetap saja kalau Anda sudah dibaiat itu berarti menandakan keterikatan Anda dengan PMII. Baik secara jasmani maupun rohani. Secara tidak langsung, Anda tetap menjadi bagian darinya. Anda berhak sayang, peduli, bahkan kembali lagi.

Oleh karena itu, sepemahaman saya, kedewasaan berorganisasi bukan dinilai pada ukuran siapa yang lebih dulu masuk dan siapa yang terlambat, siapa yang aktif dan siapa yang tidak aktif, siapa yang “lolos” sampai jenjang PB (Pengurus Besar) maupun tidak. Melainkan harus dipahami secara menyeluruh dan integratif. Misalkan, dinilai dari keseriusan belajarnya, inisiatif individunya, amaliyah nilai-nilai PMII dalam aktivitas kesehariannya, militansi perjuangannya, kontribusi di wilayah yang lain dalam membawa harum nama organisasinya, intensitas komunikasinya serta beberapa aspek positif lainnya. Terkadang, kita kerap membeda-bedakan satu sama lain. Akibatnya, gara-gara jarang “nongol acara formal” malah enggan untuk kembali ketika ada agenda-agenda informal. Ini yang patut kita muhasabahi.

Dan hari ini, tanggal 17 April 2020, PMII menjadi genap berusia 60 tahun. Usia yang terbilang cukup tua untuk sebuah organisasi kemahasiswaan, sehingga dituntut harus matang segala sesuatunya. Baik pola kaderisasinya, anggaran dasar dan rumah tangganya, visi keorganisasiannya —terutama menyoal kualitas kader-kadernya. Musabab harus dipahami bersama bahwa PMII dihadapkan berbagai tantangan dan perubahan zaman. PMII harus menjadi organisasi yang adaptif, akseleratif dan progresif. Dengan mendasarkan pada prinsip; Al-Muhafadhotu Alal Qodimis Sholeh wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah (memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya yang baru yang konstruktif).

Untuk mewujud konkretkan prinsip tersebut, setiap anggota maupun kader PMII tentu saja memerlukan penalaran obyektif. Syaratnya, dengan mau bersentuhan, berdekatan serta mampu mengakrabi dunia literasi—tekstual maupun kontekstual.

Apabila diidealisasikan, kedekatan dengan dunia literasi semoga melahirkan tipologi anggota atau kader yang Pemikir, Pejuang dan Penggerak. Yakni seorang organisatoris yang kreatif, inovatif, serta visioner yang diartikulasikan melalui kesungguhannya dalam berjuang melewati lika-liku tantangan, hambatan dan juga keterbatasan. Tetapi ia terus bergerak, pantang menyerah dan pantang meninggalkan PMII dalam situasi dan kondisi apapun.

Lewat kedekatan dengan literasi juga diharapkan semakin meluaskan cakrawala berfikir serta menuntun ketepatan bersikap setiap anggota dan kader. Apa yang semestinya perlu disadari, digali, dan ditekuni mengenai potensi yang melekat pada dirinya. Sehingga cita-cita organisasi membentuk kualitas kader dapat terwujudkan. Melalui hasil kesadarannya sendiri, kemauannya sendiri serta keseriusan belajarnya sendiri. Sederhananya, bagi yang sudah mempunyai keahlian IT ya ditekuni, yang seneng menulis ya terus menulis, yang sudah memiliki kemampuan mumpuni mengaji kitab ya difasilitasi, yang demen politik tinggal dilandasi semangat kemanusiaannya, yang kecenderungannya bisnis ya konsisten, serta apapun minat lainnya. Intinya, anggota dan kader PMII harus menyadari arti penting menanam. Dzikir, Fikir dan Amal Shaleh.

Terakhir, kesadaran literasi pun bakal menggugah ingatan anggota dan kader terhadap pentingnya menggali, memunculkan maupun mengkreatifi kembali kekayaan nilai dari masa silam. Umpamanya, melalui pelestarian budaya pengajian malam Jumat di masjid kampus, sholawatan serta perayaan berbagai hari-hari besar Islam maupun nasional. Yang kesemuanya merefleksikan nilai-nilai Takwa, Intelektual dan Profesional.

Pertanyaannya, kenapa dari berbagai pandangan yang saya kemukakan lebih merujuk pada orang-orang yang terlibat dalam PMII?

Sederhana alasannya, oleh karena sadar bahwa organisasi hanyalah benda mati. Adapun yang mampu menghidupkan organisasi adalah seluruh anggota dan kader yang tergabung didalamnya, yang dipandu oleh juru kompas pengetahuan—spiritual dan intelektual. Sehingga dengan dibekali hal diatas, setiap anggota dan kader bakal mengerti pentingnya kesadaran bagaimana membangun, memantapkan pilihan arah dalam bergerak serta menghadirkan keikhlasan ketika berkhidmat.

Dengan demikian, momentum Harlah harus dimaknai sebagai medium refleksi—kritik dan autokritik—bagi kita semua, khususnya bagi saya. Tentunya, demi perubahan organisasi yang lebih baik. Dan yang lebih utama, kita bisa memperbaiki diri selama berproses dengan PMII. Lantas, pertanyaan-pertanyaan mendasar kiranya perlu kembali kita munculkan, diskusikan, kemudian kita kontemplasikan masing-masing. Apakah PMII hendak dibangun dengan semangat kekeluargaan, ataukah justru dari bagaimana kepentingan dan keuntungan?

Tags: ,
Ray Ammanda, mahasiswa yang sedang mencari jati dirinya. Aktif berorganisasi di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), pecandu buku dan senang di dunia literasi. Murid kesayangan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).

Related Article

0 Comments

Tinggalkan Balasan dan Mari Kita Berdiskusi

Kategori

  • Esai (21)
  • Resensi (4)
  • Sastra (7)
  • Tokoh (1)
  • Unique (4)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE

    Rekomendasi

    Politik Warung Kopi
    FDS: Cabut atau Revisi

    FDS: Cabut atau Revisi

    22 Agustus 2017
    Berislam Dengan Waras

    Berislam Dengan Waras

    26 Desember 2019
    Takut

    Takut

    5 Februari 2019
    Politik Untuk Siapa, Siapa Untuk Politik?

    Kategori

  • Esai (21)
  • Resensi (4)
  • Sastra (7)
  • Tokoh (1)
  • Unique (4)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE