Rohingya: Tujuan Ekonomi yang Dibungkus SARA

Konflik berdarah pecah kembali di Myanmar. Ratusan orang baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda di bunuh, di sembelih dan di perkosa. Orang-orang Rohang di usir dari tanahnya karena menurut hukum yang berlaku disana mereka tidak diakui kewarganegaraanya (?).

Bagaikan sebuah kilatan cayaha, berita tentang pembantaian ini pun terdengar di telinga orang-orang Indonesia. Seperti biasa, banyak dari mereka yang setiap harinya cuma scroll-scroll timeline instagram, update-update boomerang di instastory maupun orang-orang yang masih ‘keukeuh di Facebook’ ramai-ramai membuat hastag #saverohingya #savemuslim dan segala save-savean lainnya.

Seperti sudah menjadi seorang pakar, mereka menghujat sana-sini. Mereka menghujat Aung San Suu Kyi karena kebungkamannya, mereka mengcemooh pemerintah Indonesia sendiri karena di anggap tidak memihak pada saudara seiman -tidak seperti Erdogan katanya- dan dengan sangat heroiknya mereka berkata ‘mari kita berjihad’, mari kita bantu saudara muslim kita teraniaya. Salah kaprahnya mereka dalam berjihad adalah ketika konflik terjadi di Myanmar justru mereka sangkut pautkan dengan penganut Budhis yang ada di Indonesia. Bahkan FPI, FUI, PA 212 dan ormas sejenisnya ingin membuat aksi solidaritas di Candi Borobudur -coba jelaskan hubungannya apa kasus Rohingya dengan candi?-

Sepertinya isi kepala mereka sudah bercampur aduk dengan yang di bawahnya sehingga mereka tidak bisa membedakan antara siapa itu rakyat Myanmar, pemerintah Myanmar, militer Myanmar, ekstremis Buddha, penganut Buddha di Myanmar, penganut Buddha di Indonesia dan candi -Ternyata orang timur hari ini tidak jauh berbeda dengan orang-orang barat yang menggeneralisir bahwa semua muslim adalah teroris-.

Kembali ke Myanmar.

Pada dasarnya Myanmar adalah sebuah negara yang hampir mirip dengan Indonesia. Negara multi-etnis. Sedikit-banyaknya, Myanmar memiliki 135 etnis yang tersebar di beberapa negara bagiannya. Etnis Burma adalah etnis yang mayoritas dengan jumlahnya yang mencapai 60 persen dari seluruh populasi rakyat Myanmar. Perbedaan antara Indonesia dengan Myanmar adalah manajemen ethisnya. Jika di Indonesia, keberagaman etnis menjadi sebuah identias negara yang kuat dan plural, di Republic of the Union Myanmar justru keberagaman yang ada membuat negara ini dipenuhi oleh konflik etnis yang berkepanjangan. Permasalahan utamanya adalah etnis Burma yang mayoritas memonopoli ekonomi, politik dan militer. Sehingga mereka merasa kuat dan bisa bertindak semena-mena kepada kaum minoritas.

Baca Juga: Full Days School

Tidak memiliki identitas pemersatu -seperti Pancasila-, Perjanjian Panglong yang di langgar, monopoli ‘ekopolmil’ oleh Etnis Burma, serta di peliharanya ekstrimis Budha yang barbar dan bersumbu pendek menjadikan gesekan antara mayor dan minor semakin kencang di negara ini. Banyak etnis minoritas yang membuat perlawanan. Bukan hanya Rohang dengan Rohingya Patriotic Front (PRF) nya saja yang melakukan perlawanan. Sebut saja di sebelah utara ada Kachin Independent Army (KIA) yang ingin berpisah dan membuat negara sendiri, di selatan tepatnya di Provinsi Kayin ada Karen National Defence Organization (KNDO) dan tentu saja etnis-etnis lain yang terdiskriminasi seperti Shan, Mon, dan Chin melakukan perlawanan yang sama.

Melihat kondisi seperti ini, pemerintah Myanmar malah membuat tindakan represif dengan menurunkan angakatan bersejatanya untuk membasmi para ‘pemberontak’ tersebut yang justru terbukti sangat tidak solutif. Tindakan ini menyebabkan banyak rakyat sipil yang mati dan menjadi pengungsi di negara lain. Kejadian ini sedikit banyaknya mirip dengan kejadian DOM yang di lakukan oleh rezim otoritarianisme Orde Baru Soeharto pada GAM di Aceh dan OPM di Papua. Untunglah rezim militerisme di Indonesia sudah berakhir sehingga tidak ada lagi konflik yang berkepanjangan seperti yang terjadi di Myanmar.

Isu Rohingya pada dasarnya -sangat jelas- bukan lah konflik tentang agama karena milisi Karen yang mayoritas Budha pun berkonflik dengan Pemerintah Myanmar. Akar utama yang sesungguhnya adalah SDA dan kesenjangan (ekonomi). Friedrich Engels pernah berkata bahwa konflik yang didasari oleh suku, etnis, agama, ras, dan golongan bukanlah konflik yang didasari oleh konflik identitas. Konflik identitas hanyalah topeng dan pemicu dari persoalan sesungguhnya, yaitu persoalan relasi ekonomi yang disebabkan oleh kesenjangan ekonomi dan penutupan ekonomi.

Berdasarkan pada beberapa sumber yang ada wilayah Arakan-Rakhine adalah wilayah dengan suber daya alam yang melimpah. Terbukti wilayah tersebut mempunyai cadangan gas sebesar 7.836 trilliun kaki kubik dan 1.379 milliar barrel minyak. Hal ini tentu saja menarik perhatian perusahaan-perusahaan multinasional untuk mengexplorasi kekayaan yang ada disana. Bagi-bagi jatah pun terjadi. Maka rezim Junta Militer di Myanmar yang perusahaannya menjadi mitra dalam proyek ini, harus memastikan wilayah yang di investasikan aman. Daripada melakukan pembebesan lahan yang ribet dan mahal lebih baik usir saja etnis yang tinggal disana, kita gunakan isu yang sensitif: yaitu agama. Mungkin seperti itu pemikiran mereka. Para tentara pun turun dengan dalih memberantas pemberontak dan di aminkan oleh para biksu ekstrem seperti Ashin Wirathu dan pengikutnya yang memang sengaja di pelihara oleh Junta.

Pada akhirnya kita sama sedihnya atas tragedi yang terjadi di Rohingya. Kitapun sama kecewanya dengan pemerintahan Junta Militer Myanmar yang bertindak sangat diskriminatif. Tapi, walaupun kita sedih dan kecewa kita tidak boleh menghilangkan kejernihan berpikir kita untuk melihat akar permasalahannya. Kita bersimpati dan sedih akan tragedi tersebut. Untuk itu mari kita kutuk peristiwa ini atas rasa kemanusiaan, bukan karena agama. Karena, #kitasama.

Sebagai kalimat penutup ingat lah kata-kata dari Seorang Filsuf Islam ini: Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah sesuatu yang batil dengan agama – Ibnu Rusyd. Semoga Menginspirasi.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related Article

0 Comments

Tinggalkan Balasan dan Mari Kita Berdiskusi

Kategori

  • Esai (17)
  • Resensi (2)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (2)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE

    Kategori

  • Esai (17)
  • Resensi (2)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (2)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE