Reformasi Sosial Demi Arab Saudi yang Lebih Baik

Membicarakan Arab Saudi seperti memegang sebuah koin. Ada dua buah kutub yang tidak bisa disatukan satu sama lainnya: ada pembenci dan ada penyuka. Keduanya sama-sama fanatik dan ekstrim dalam memandang Kerajaan Arab Saudi. Banyak isu yang menghantui Arab Saudi mulai dari TKW, Wahabi, Antek Amerika dan lain sebagainya.

Bagi yang menyukainya, Arab Saudi adalah negara islam yang dengan segala sumberdaya alamnya (Minyak) yang begitu melimpah. Seperti tidak ada henti-hentinya Tuhan memberkati kekayaan itu untuk Arab Saudi. Tidak mengherankan, dengan bergelimpahannya emas hitam di negara ini, membuat negara pemilik dua kota suci umat islam ini begitu aman dan makmur.

Arab Saudi, bagi para pembelanya bukan hanya sebagai entitas negara saja. Tetapi juga sebagai representasi islam. Bagi mereka, siapapun yang menyusik Arab Saudi adalah ‘Anti Islam’ -Apalagi jika yang mengusiknya adalah Iran.

Ketika kita bergeser untuk melihat dari kacamata lainnya, Arab Saudi adalah negara yang di cap sebagai negara yang kolot, feodal, fundamentalis, penyuplai teroris, antek Amerika dan sederet kejelekan-kejelekan lainnya. Arab Saudi sering dianggap sebagai kaki tangan Amerika untuk terus menancapkan pengaruhnya di Jajirah Arab bersamaan dengan negara-negara monarki arab lainnya.

Dewasa ini, Arab Saudi banyak digambarkan sebagai negara sumber masalah baik dalam pemikiran maupun perbuatan. Terkhusus negara-negara Timur Tengah. Lihat bagaimana gilanya pemikiran Salafi Jihadis dan Salafi Takfiris yang menjelma menjadi ISIS, FSA, Al-Qaeda dan lain-lainnya. Atau bagaimana kejamnya Arab Saudi terhadap Yaman akhir-akhir ini.

Pada tahun 2016 lalu ideologi Salafi Wahabi yang dianut oleh mayoritas ulama-ulama Arab Saudi telah dikeluarkan dari Madzab Sunni pada saat Konferensi Ulama Sunni di Chechnya. Konferensi yang dihadiri oleh 200 ulama terkenal dari berbagai dunia ini sepakat untuk mengeluarkan/tidak mengakui bahwa Salafi Wahabi adalah bagian dari Sunni. Hal ini dilakukan agar dapat melepas fitnah dunia bahwa islam adalah agama teroris. Apa yang dilakukan oleh para teroris itu sangat jauh dari apa yang di ajarkan oleh sang pembawa risalah yakni islam yang rahmatan lil alamin bukan islam yang ramatan lil golongan.

Bagi Arab, ini adalah sebuah hantaman yang begitu menyakitkan. Walaupun secara tertulis Arab Saudi tidak memiliki dokumen bahwa Salafi Wahabi adalah aliran resmi. Tapi, secara tindakan dan perbuatan Arab Saudi sudah jelas menjadikan aliran ini sebagai aliran resmi yang di dukung oleh negara.

Penghancuran situs peninggalan nabi, makam-makam para sahabat dan keluarga nabi dibiarkan oleh negara dengan dalih pemurnian ajaran islam agar tidak terkena penyakit TBC (Tahayul, Bidah dan Khurafat). Bahkan jika tidak ada tekanan yang keras dari dunia makam nabi pun akan di hancurkan oleh mereka.

Lebih dari itu, Arab Saudi pun secara tidak langsung membatasi ruang gerak 4 madzab Sunni di negaranya -kecuali Madzhab Hambali versi Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qoyim. Bagi mereka yang pernah menginjakan kakinya di Arab Saudi pasti tahu bagaimana aparat keamanan disana selalu menghalang-halangi orang-orang yang mencoba berdoa di depan makam Baginda Nabi Muhammad SAW (Ziarah). Itu adalah salah satu contohnya.

Selain isu Wahabi, Arab Saudi juga melakukan sebuah tindakan blunder dengan bekerjasama dengan Israel dalam pembuatan gelang jemaah haji tahun lalu dan bekerjasama dalam bidang ekonomi lainnya. Kita semua tahu bahwa Bangsa Arab dan Bangsa Israel punya sejarah kelam dari dulu hingga sekarang. Terlebih saat ini Israel adalah negara utama yang menyebabkan rakyat Palestina menderita. Dari tindakan blunder tersebut semakin bertambah saja stigma negatif terhadap negara ini.

Akhir-akhir ini pemasukan utama perekonomian Arab Saudi -yakni emas hitam- kian lesu harganya di pasaran dunia. Sehingga menyebabkan negara merugi. Sadar akan perubahan zaman. Arab Saudi kini ingin merubah pola pemasukan ekonominya seperti Uni Emirat Arab. Yaitu dengan membuat sebuah perekonomian baru yang lebih menguntungkan. Bidang properti, hiburan, kesehatan, konsumsi dan gaya hidup adalah pilihan terbaik.

Lihat bagaimana dulu Uni Emirat Arab terkenal karena minyaknya. Tapi sekarang justru sterotipe tersebut berubah menjadi tempat yang bergengsi dengan gedung-gedung serta berbagaimacam ke glamoran yang ditawarkannya. Banyak orang-orang yang tadinya ingin umroh ke Arab Saudi justru ingin transit terlebih dahulu di Uni Emirat Arab -Seminimalnya hanya untuk minum Starbucks sambil melihat bagaimana tingginya gedung Burj Khalifa atau indahnya pulau-pulau reklamasi disana mungkin.

Dimotori oleh sang putera mahkota sendiri, Arab Saudi kini ingin bertransformasi menjadi negara yang modern dan lebih terbuka. Putera Mahkota Muhammad bin Salman memandang bahwa untuk mencapai apa yang dimaksud dengan visi 2030 Arab Saudi hal yang pertama harus dilakukannya adalah mengganti ideologi negaranya menjadi lebih moderat, tidak puritan dan fundamentalis.

Baca Juga: Ibnu Muljam Saat Ini

Putera Mahkota Muhammad bin Salman sendiri mengungkapkan bahwa Arab Saudi akan membuat sebuah kota metropolis yang membentang hingga ke Yordania dan Mesir. Proyek tersebut bernama Proyek NEOM. Inilah Sebuah kota modern yang berkali-kali lipat lebih besar dari Proyek Meikarta yang ada di Indonesia. Sebagai perbandingan, Meikarta digadang-gadang membutuhkan dana sebesar Rp. 278 Triliun dalam pembangunannya sedangkan Proyek NEOM membutuhkan dana sebesar Rp. 6.800 Triliun -Hmm, dipake buat melunasi hutang Indonesia dan Membangun Pulau Jawa menjadi kota modern sepertinya lebih dari cukup.

Kota Modern bernama NEOM ini kelak akan menjadi sebuah daerah ramah investasi, urban serta segala ke glamoran yang selama ini selalu dibayang-bayangkan oleh orang-orang gurun. Untuk dapat membangun proyek kota yang ambisius ini tentu Arab Saudi tidak akan bisa membangunnya sendiri. Diperlukan dana publik, dana swasta dan investasi luar. Investor dapat melirik proyek ini dan mau menanamkan uangnya disana jika keadaan disana aman untuk investasi -baik dari segi sosial maupun politik.

Bisa kita bayangkan ketika kota ini sedang dibangun, tiba-tiba ada ulama yang berteriak bahwa pembangunan kota ini akan menyebabkan kemudharatan dan karena yang mambangunnya adalah orang kafir (sebagian) maka harus kita ditolak. Kemudian keluar ayat-ayat Al-Quran yang mereka tafsirkan sendiri. Akhirnya banyak dari para pengikutnya melakukan demo berjilid-jilid dan parahnya beberapa pengikut garis kerasnya malah melakukan bom bunuh diri di gedung-gedung yang belum jadi tersebut. Tamat sudah kota yang didamba-dambakan oleh orang gurun ini. Kotanya menjadi kota mati karena banyak investor menarik kembali uangnya.

Oleh karena itu, sebelum membayangkan masa depan yang di idam-idamkan itu sangatlah penting bagi Arab Saudi untuk melakukan transformasi sosial di negaranya. Selama paham puritan dan fundamentalis masih ada di negara tersebut maka sangat mustahil Arab Saudi bisa melakukan reformasi dan merubah pola ekonominya yang selalu bergantung pada minyak.

Tags: , , , , , , , ,

Related Article

No Related Article

2 Comments

Gelas kosong 25 Juni 2018 at 19:39

Lalu apakah benar, -isu- bahwa arab saudi tidak membantu palestina? Bukankah itu menguatkan pandangan bahwa arab saudi merupakan antek2 amerika ?

    Admin 29 Juni 2018 at 19:36

    Saya rasa itu bukan lah sebuah isu yah Gelang Kosong :’D. Tapi, emang bener. 😀
    Hubungan KSA dengan AS dan Israel emang mesra

Tinggalkan Balasan dan Mari Kita Berdiskusi

Kategori

  • Esai (17)
  • Resensi (2)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (2)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE

    Rekomendasi

    Takut

    Takut

    5 Februari 2019
    Yang Mengetuk

    Yang Mengetuk

    28 Oktober 2019
    Tuhan Kecil

    Tuhan Kecil

    10 Januari 2018
    Rohingya: Tujuan Ekonomi yang Dibungkus SARA
    Reformasi Sosial Demi Arab Saudi yang Lebih Baik

    Kategori

  • Esai (17)
  • Resensi (2)
  • Sastra (8)
  • Tokoh (1)
  • Unique (2)
  • Akun Terkait

    INSTAGRAM

    YOUTUBE